STASIUN
TUGU
Rembulan yang bersinar
memantulkan cahaya remangnya tak begitu membuatku mengenali wajah-wajah di
sekitar sini. Berulangkali aku memalingkan kepalaku mencari-cari satu wajah di
antara banyak wajah di sini. Seharusnya aku langsung menangkap bayangannya jika
sudah menapak di sini, atau mungkin dia tidak ada di sini. Aku masih duduk di
kursi sederhana ini bersama tas ransel yang kubawa jauh-jauh dari Jakarta.
Jauh-jauh pula mendatangi kota budaya ini hanya untuk dia yang wajahnya saat
ini kucari. Sudah satu jam aku duduk di sini dan tidak ada tanda-tanda dia ada
di sini. Entah sudah berapa kali aku menengok telepon selulerku, tak ada pesan
masuk ataupun telepon masuk. Aku ingat kapan terakhir kali teleponku berdering,
saat keberangkatanku tadi pagi. Setelah itu aku yang harus kembali
berangan-angan mengenai ini semua. Sekali lagi aku yang harus mengalah dan
meneleponnya duluan. Lega. Ia masih mau menerima teleponku.
“Halo?” sapanya dari seberang
sana.
“Kamu tidak lupa menjemputku
sekarang kan?” tanyaku.
Lama ia tidak menyahut. Lalu
beberapa detik kemudian ia kembali berbicara, “Oh iya, maaf lupa, Sayang. Aku
jemput sekarang ya? Sabar bentar.”
Aku mengangguk, “Ya.” hanya itu
kata yang mampu keluar dari mulut tipisku. Sebenarnya ada banyak kalimat yang
mulai tersusun di kepalaku dan menggumpal di sana. tapi aku memutuskan untuk
mengatakan padanya secara langsung. Percuma menjelaskan lewar sambungan
telepon. Jika ia sedang dalam keadaan yang sulit, aku yakin ia tidak akan
pernah berminat mendengarkannya dan bahkan membuang ponselnya jauh dari
telinganya jadi ia takkan pernah mendengar celotehanku yang menurutku penting.
Aku kembali mengulur hatiku.
Menenangkannya sendirian. Mungkin kali ini aku harus bersyukur, ia menepati
janjinya kali ini. janji yang ia ucapkan beberapa menit yang lalu saat aku
meneleponnya. Ia menjemputku. Seketika pula ia berlari kecil ke arahku,
segumpal senyum ia cairkan untukku. Sesaat
ia merengkuh bahuku, memelukku hangat. Menyatukan kembali ruang rindu di antara
aku dengannya.
“Maaf ya, tadi sibuk buat tugas.
Sudah makan? Makan dulu yuk.” Sergahnya seketika pula saat melepas pelukannya.
Kembali aku mengurai senyuman
penuh arti untuknya. Senyum yang sudah tiga bulan ini tak pernah bisa langsung
kunampakkan untuknya. Aku rasa ia begitu merindukan senyumku jadi aku
memutuskan untuk tetap menampakkan wajah ceria meski hatiku berkata lain. Entah
sejak kapan aku mulai lihai berbohong pada diriku sendiri dan besikap
berkebalikan dari biasanya. Nyatanya, cinta yang selama ini menguatkan. Cinta
yang menurutku murni. Cinta yang menurutku suci. Cinta yang berbeda kurasakan.
Ia membawaku ke suatu kedai
sederhana di Kota Pelajar ini, pengapnya ruangan di kedai ini membuat peluhku
mengalir lembut di dahiku dan dengan penuh kasih sayang ia menyekanya untukku.
Hal sederhana yang membuatku melayang. Kedai ini tidak begitu besar namun tidak
juga kecil, ukurannya sedang namun ramai pengunjung. Jadi para pengunjung harus
berebut udara bersih di sini, meski sebenarnya lebih banyak udara berpolusi
yang dihirup daripada udara bersihnya. Mungkin itu yang membuat dadaku terasa
sedikit sesak, atau mungkin ungkapan kebahagiaan yang tak terkira semenjak
beberapa menit yang lalu saat aku bertemu dengannya.
Pesanan kami tak kunjung datang,
padahal dengan jelas aku menghitungnya dengan jam tanganku, bahwa kami sudah
memesannya sejak setengah jam yang lalu. Tapi hal itu tak mengapa, paling tidak
hal yang ditunggu adalah hal yang pasti. Paling tidak penantianku ini akan
berbuah manis, bukan harapan yang tak kunjung jadi kenyataan.
Beberapa menit kemudian, pesanan
kami datang. Menit demi menit kami habiskan dengan cerita-cerita yang
menggumpal di tenggorokanku dan menunggu waktu untuk diucapkan. Lelaki berbadan
tinggi yang duduk di depanku tepat itu hanya mengangguk-angguk menanggapi
ceritaku, sesekali ia membalas dan berpendapat. Tapi kurasa aku yang terlalu
egois untuk mengutarakan semua dalam benakku dan tidak memberinya waktu untuk
bercerita balik. Jadi pada akhirnya ia hanya memberi anggukan saja. Sikap
cueknya yang kurindukan selama tiga bulan ini. Meski pada dasarnya aku sudah
sangat berniat untuk tetap menjalani hubungan spesialku dengannya meski jarak
yang ratusan kilometer memisahkan. Bagiku, jika memang hanya karena jarak itu
semua bisa kuatasi.
Lelaki itu tak henti-hentinya
memandangku yang sedang menikmati sepiring nasi goreng, seperti ia tak mau
melepas pandangannya dariku. Semenjak itu aku tahu betapa ia juga merasakan
luasnya ruang rindu yang membuat dada justru terasa sesak.
“Mau di Jogja sampai kapan?”
ujarnya lembut.
Aku memutar otak, mencari
jawaban yang tepat. “Belum pasti. Sebenarnya hanya libur dua hari, aku habiskan
di sini sama kamu.” Aku mencoba mengurai senyuman lagi, bahagia yang tak
terkira.
“Ehm.” Ia hanya menggumam.
“Kamu tidak keberatan?”
“Tentu tidak, Sayang. Aku
bahagia kamu ke sini, terima kasih ya.” ujarnya singkat, ia menggenggam
tanganku erat.
Usai makan malam di kedai itu,
Edo mengajakku mencari tempat singgah yang tepat. Ada salah seorang teman
karibku di Jogja dan malam selarut ini aku diantar Edo menuju kos Shena,
temanku.
Begitu sampai di depan kos, aku
disambut hangat oleh Shena. Dalam pelukan hangat Edo melepasku untuk malam ini.
besok akan menjadi hari yang menyenangkan bersamanya, jadi aku harus
cepat-cepat beristirahat agar semua terasa lebih mudah.
Ruangan yang cukup luas jika
ditempati seorang diri, tatanan kamar yang rapi kurasa akan membuatku nyaman
untuk menginap di sini. Ekor mataku menatap pada toples kaca berisi puluhan
bunga mawar yang mulai mengering, bahkan sampai benar-benar kering. Hal ini
sama dengan kepunyaanku di rumah. Edo yang rajin memberiku setangkai mawar dan
aku menyimpannya sampai benar-benar kering, aku selalu mau menyimpan setitik
pun kenangan bersamanya. Aku berpikir mungkin pacar Shena memiliki kebiasaan
yang sama dengan Edo, memberi bunga mawar murni.
“Mawar dari siapa, Na?”
“Dari cowokku, La. Tiap minggu
dia kasih ke aku.” Jelasnya datar.
“Oh, berarti sudah empat bulanan
ya, 16 mawar dalam toples.”
Shena mengangguk, tersenyum
tipis lalu menata ranselku lagi di samping lemarinya. “Mungkin ini bodoh dan
tidak berguna, tapi menyimpan mawar itu membuatku jauh lebih kuat.”
“Hm, iya. Kadang hal sederhana
itu bawa makna luar biasa.”
Aku tak tahu sudah berapa lama
waktu terlewatkan untuk saling berbagi cerita tentang kesan-kesan kuliahku di
Jakarta dan Shena di Jogja, kami saling bertukar pikiran. Jogja memang tempat
di mana orang-orang bisa menyatukan rindu, tak ada batasan waktu di sini, semua
membaur. Hingga aku dan dia baru sadar ketika mentari pagi di Jogja menyeruak
masuk mengintip di balik jendela kamarnya, suasana yang makin menghangatkan.
Terlintas sedikit penyesalan mengapa aku mengapa dahulu aku tidak memilih Kota
Budaya ini untuk melanjutkan studiku dan memilih meninggalkan Edo, kekasihku,
cinta pertamaku.
Hari pertamaku liburan di sini,
pukul delapan tepat Edo menjemputku di kos Shena. Tentu saja aku sudah bersiap
untuk menjalani apapun kenyataan yang akan terjadi pada hari ini. Kaus warna
abu-abu itu masih sama seperti saat aku membelikan itu untuknya, hadiah
perpisahanku dengannya. Rambutnya masih sama seperti dulu, tatanan yang tak
pernah berubah. Edo menunggu di luar, menyambutku dengan senyuman yang super
hangat. Akhirnya kami pergi bersama. Saat itu juga aku baru sadar bahwa Shena
sudah meninggalkan kos sejak pagi-pagi buta, mengurusi sesuatu katanya.
Dengan motor kesayangannya, ia
membawaku ke sebuah warung bubur ayam di sudut kota Jogja ini. memesan dua
mangkuk bubur untuk sarapan, memulai hari ini dengan semangkuk cinta pula.
“Semalam tidur nyenyak?” tanyanya.
“Tentu saja, aku sangat
bahagia.”
“Kenapa sepertinya kamu tak rela
datang ke sini?”
“Aku bahagia datang ke sini, aku
hanya sedih jika nantinya meninggalkan Jogja lagi. Lalu tak tahu kapan bisa
bertemu denganmu.” Jelasku dengan suara tertahan, napas tak beraturan.
Edo menunduk, ada semburat wajah
sedih yang tergambar di sana. Lelaki ini, aku mempercayainya. Bahkan jika tak
ada lagi yang bisa kupercayai di dunia ini, percayalah, aku akan tetap
mencintainya. Cintaku tulus padanya, meski aku percaya akan ada banyak
kemungkinan yang akan kuhadapi di masa depan.
“Jangan nangis dong, liburan kan
buat seneng-seneng, Carla.” Nasihatnya untukku, meski kata-kata itu sudah tidak
asing lagi di telingaku.
Sering aku mendengar banyak
nasihat-nasihat darinya jika aku sedang kalut. Saat aku ingin dia datang dalam
hari-hariku dan memelukku saat aku terpuruk. Meski saat itu aku sadar juga, ia
memelukku dari doa-doanya.
Edo menatapku sayu, ada sesuatu
yang ingin ia katakan lagi tapi ia cukup terlalu misterius untuk kupahami. Dia
adalah satu-satunya lelaki yang terlalu misterius untukku, tapi jika aku diberi
waktu untuk mengulang, jelas aku akan memilihnya lagi.
“Maafkan aku, ya. Harusnya aku
tetap ada di sini, tapi…”
“Ssstt! Kamu bicara apa sih?
Tenang aja, tidak masalah. Semua akan baik-baik saja.”
“Iya aku tahu.” Ujarku singkat.
“Aku ke WC dulu ya, bentar.”
Pamitnya padaku.
Edo meninggalkan ponselnya di
meja, aku mengambilnya. Sesaat mengotak-atik ponselnya, membuka kotak pesannya.
Entah apa maksud dari isi pesan yang ada di dalamnya, aku tak tahu pasti. Tapi
di sana terdapat ratusan pesan dari Shena, mereka tampak akrab dalam obrolan
itu. sejak kapan pula aku merasa mulai lihai merasakan api cemburu yang mulai
membakar hatiku perlahan-lahan, meski itu tak mengurangi sedikitpun rasa
sayangku pada Edo.
Sampai pada akhirnya kau
menemukan sebuah pesan yang kurasa isinya menunjukkan betapa mereka sangat
dekat.
Minggu
ini tidak ada mawar dulu, ya. Mungkin minggu depan. Maafkan aku, sepertinya
kamu terlalu terluka.
Deg. Napasku menjadi tak
beraturan, detak jantungku tak menentu. Kadang lamban, tapi kali ini terasa
begitu cepat dan Edo tak juga kembali ke sini.
“Kamu kasih apa ke Shena, Yang?”
Aku melihat Edo seperti tergagap
menjawabnya, ia duduk dengan tenang. “Kasih apa memangnya?”
“Itu di ponselmu. Mawar ya?
Shena minta dibeliin mawar gitu?”
“Iya, dia minta tolong. Tidak
masalah kan?”
Meski rasanya aku ingin marah,
tapi aku menahannya, aku tak mau merusak perasaannya dnegan perasaan cemburuku
yang terlampau bodoh ini.
“Dia kan juga temanmu, tidak
masalah kok.” Jawabku singkat, kuharap dia tidak mempermainkan jawabanku ini.
“Hari ini mau kemana?”
“Ehm, temani aku menyiapkan perlengkapan
untuk Pendidikan Dasar mau?”
“Wah! Akan menyenangkan. Siap
kapten!”
Usai sarapan, kami melanjutkan
perjalanan pada hari ini dengan segala persiapan untuk acara di kampusnya.
Paling tidak dengan menemaninya, aku bisa memilihkan lagi suatu hal yang
nampaknya cocok untuknya atau memang dibutuhkan. Sudah tiga bulan pula aku
tidak menemaninya belanja bersama, aku merindukan saat-saat itu, tentu saja.
Pergi ke tempat persewaan
barang-barang, membeli perlengkapan yang lain dari satu toko ke toko lain.
Menyusuri sudut kota Jogja dengan peluh yang kadang menetes. Hingga semua
persiapan selesai saat matahari sudah tergelincir di ufuk barat.
“Hari ini melelahkan sekali.
Terima kasih, ya!”
“Tapi aku bahagia bisa
menemanimu lagi. Sangat kurindukan.”
“Mau makan malam bersama?”
tawarnya padaku.
“Tidak, hari ini mau makan
bersama Shena. Malam ini untuk temanku, sampai jumpa besok lagi ya. terima
kasih untuk hari ini.”
Salam perpisahan yang memuakkan.
Aku benci setiap kali bertemu dengannya dan harus mengucap ucapan perpisahan.
Seperti aku dan dia tersatukan oleh perpisahan. Tapi pada dasarnya aku
mengerti, bahwa setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Aku juga percaya,
seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi. Hanya berbicara
tentang waktu dan semua akan terjawab, pelan saja.
Edo hanya mengangguk, satu
kecupan hangat di kening untuk perpisahan hari ini. ia tersenyum hangat lalu
meninggalkanku di depan kos Shena. Dengan langkah gontai aku memasuki kamar
kosnya, Shena masih sibuk dengan urusannya dengan komputer lipat berwarna hitam
kepunyaannya.
“Kok sudah pulang? Sudah puas
jalan-jalannya?” ujarnya saat aku menepuk punggungnya pelan.
“Ehm, tadi bantuin dia siap-siap
buat Pendidikan dasar di kampusnya minggu depan. Tidak terasa sekali besok
malam sudah harus kembali ke Jakarta, berat meninggalkan Jogja. Banyak hal yang
bisa membuatku merasa bahagia walaupun itu sederhana, di sini.”
“Percayalah, ada banyak hal yang
akan membuatmu bahagia juga di Jakarta. Kamu sudah memilih untuk di sana,
banyak kenyataan dan kemungkinan yang akan kamu dapat di sana. jadi, jalani
saja semuanya.”
Shena menatapku sayu,
pandangannya sangat redup. Aku tak tahu pasti maksudnya apa. singkatnya,
setelah ia merapikan komputer lipatnya ia segera bersiap untuk mengistirahatkan
tubuhnya, rupanya tidak berselera untuk makan malam hari ini. Dia bilang banyak
yang harus dikerjakan besok, jadi dia harus cukup beristirahat. Dan aku selalu
bisa merasakan kesepian kapanpun itu, bahkan saat Shena tertidur.
Tidak ada yang bisa kulakukan malam
ini, termenung memandangi puluhan bunga mawar yang sebagian sudah mengering.
Mengingatkanku pada mawar-mawarku yang lain juga di rumah. Saat termenung,
mendadak ponsel Shena berdering dan betapa kagetnya diriku saat melihat nama
Edo di layarnya. Entah mengapa rasa cemburu itu mulai menggumpal lagi di
kepalaku. Aku membuka pesan itu.
Selamat
malem, Sayang. Maaf ya, hari ini kamu bener-bener kuacuhkan. Sudah kubilang
sejak awal kau memang harus berbagi hati, maaf.
Deg. Jantungku berdesir, urat
nadiku serasa tersayat halus. Mataku terasa panas hingga berhasil melelehkan
butiran es air mata di kelopak mataku, kini berhasil keluar dengan mudah di
sana.
Tak kuasa aku membaca semua
lanjutan obrolan mereka, aku merasa satu persatu urat nadiku melepaskan diri
dari diriku. Aku seperti kehilangan kendali. Jujur jika saat itu aku mau, aku
bisa saja menerkam Shena dengan pisau, membunuh pengkhianat seperti dia. Tapi
sejenak dalam tangisku aku berpikir, “Siapa yang harus disalahkan?” otakku
mulai berpikir keras. Aku masih tak tahu siapa sebenarnya yang pantas
disalahkan. Shena yang tega mengkhianati temannya sendiri, mantan temanku. Edo
yang jahat dengan pengkhianatan yang sama atau aku yang tidak pernah ada di
saat Edo terluka dan saat dia bahagia jadi dia mencari seseorang yang harusnya
memang ada di sampingnya, dan itu bukan aku.
Napasku terasa berat, aku tidak
tega membangunkan Shena untuk meminta konfirmasi lebih jauh dari ini semua.
Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, jika memang Edo sudah tidak mencintaiku
lagi dan dia lebih mencintai Shena, harusnya ia sudah memutuskan hubungan ini
sejak dulu. Jika dia serius dengan hubungannya dengan Shena, ia harusnya
memilihnya, bukan tetap memilih untuk mempertahankan hubungannya denganku. Meski
aku terus membanjiri hatiku dengan puluhan kalimat istighfar agar jiwaku
sedikit tenteram. Kurasa itu sedikit berhasil.
Sedetik aku berpikir untuk
melupakan ini semua dan menyelesaikanya lagi besok dengan Edo. Tapi pada detik
selanjutnya aku berpikir, betapa egoisnya aku jika aku harus tetap
mempertahankan hubungan ini dengan ketidaksediaanku bersama di sampingnya untuk
empat tahun ke depan lagi. Menyiksanya lagi, menyiksaku juga.
Hanya satu keputusan yang
akhirnya kubuat untuk malam ini. memutuskan untuk berhenti menangis dan segera
tidur agar keesokan harinya aku nampak bahagia seperti tidak ada apapun yang
terjadi, kurasa itu iden yang baik. Aku tak mau menemui Edo dengan mata yang
sembab.
Pada akhirnya aku berhasil
dengan satu keputusan yang kubuat semalam. Mataku sudah tidak bengkak lagi pagi
ini, dan aku terlambat untuk menemui Shena. Ia sudah meninggalkan kamar kos
sejak pagi-pagi buta, mungkin ia menghindariku. Terhindar dari
pertanyaan-pertanyaan yang akan menusuk-nusuk jantungnya.
Ponselku berdering. Ada nama Edo
di sana, lelaki yang mengkhianatiku. Entah apa maksud ia menghubungiku pagi
ini, mungkin salah satu alasan untuk menyembunyikan pengkhianatannya lagi.
“Halo?” sapaku lemah
“Selamat pagi. Hari ini mau
kemana?” tanyanya penuh semangat.
Beberapa detik aku hanya terdiam,
tak ada yang bisa diungkapkan lagi, kurasa.
“Aku jemput kamu sekarang ya?”
tawarnya lagi saat ia tak segera menerima jawaban dari pertanyaannya.
“Hm. Aku akan bersiap-siap.”
Aku segera bergegas
menyelesaikan ritual mandi dan berganti baju sepantasnya. Usai itu semua, Edo
tepat waktu, ia sudah berada di depan kos. Kaus warna hitam dan jaket warna
abu-abu itu melekat smepurna dalam tubuhnya yang proporsional.
“Ada apa?” sapanya sata pertama
kali menatap raut mukaku yang mungkin berbeda dari biasanya, dia masih
perhatian, napasku sesak lagi.
Aku menggeleng. Kurasa ia akan
tahu dengan satu bahasa tubuh yang kuberikan untuknya itu. meski aku tak yakin
atas semuanya.
“Sarapan dulu aja yuk.”
Aku mengangguk.
Kali ini ia membawaku pada
sebuah warung nasi gudeg yang cukup besar, kurasa restoran ini benar-benar
menyuguhkan makanan yang lezat. Karena pagi ini sudah dipenuhi dengan banyak
pengunjung yang datang dan pergi menyesaki ruangan luas ini.
“Sebenernya, kamu sama Shena ada
masalah apa?” pancingku.
“Memangnya kenapa?”
“Semalam aku baca SMS dari kamu,
minta maaf sama Shena. Kamu berbuat salah apa sama dia?”
Edo terdiam. “Maafkan aku, aku
yang harusnya minta maaf sama kamu. aku…”
“Aku tidak pernah membayangkan
mengapa kemungkinan ini yang harus terjadi. Sejak awal memang aku yang salah,
meninggalkanmu. Ini bukan sepenuhnya salahmu, Edo.”
Edo menunduk, lalu menatapku
lagi. Aku tak kuasa menahan tetesan air mata yang mengalir begitu derasnya di
pelupuk mataku. Aku sedih merasakan itu semua, jantungku terasa ingin berhenti.
“Kita mulai dari awal lagi.”
“Tidak bisa, Do. Pada akhirnya
memang kenyataan ini harus terjadi, hadapi saja.”
“Kenapa? Kamu tidak
memaafkanku?”
“Aku selalu bisa punya alasan
untuk tetap menyayangimu, apalagi untuk memaafkanmu. Itu mudah buatku, hanya
saja…”
“Apa?”
“Betapa egoisnya aku jika
memaksamu mempertahankan apa yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi.”
“Maaf aku tidak jujur, tidak
terbuka, semua berlalu seperti angin. Waktupun tak bisa menjawabnya nanti,”
suara Edo melemah, ia menatapku dengan pandangan yang penuh rasa bersalah.
Membuatku merasa seperti dadaku tertancap sebilah pisau yang tajam, teramat
tajam.
“Kamu tidak salah, Do. Semua
orang berhak untuk mencintai dan dicintai. Berhak untuk memilih juga, termasuk
aku yang memilih untuk mengakhiri ini semua. Maaf aku selama ini egois,
memaksakan perasaanmu.”
Edo menggenggam erat tanganku,
kami seolah tidak peduli dengan makanan yang tersaji di meja. Kami konsentrasi
dengan urusan memuakkan ini.
“Kalau kamu terluka, kenapa kamu
tetap melakukan ini? Kenapa kita tidak memulainya dari awal lagi?”
“Aku capek, Do. Awal yang indah
itu cuma ada di masa lalu, aku tidak yakin itu semua akan terulang lagi kalau
kita memulainya. Aku bahagia pernah mengenalmu, aku sangat berterimakasih untuk
semua yang kamu berikan padaku, yang kau tak bisa membalasnya. Hanya Shena yang
ada untukmu, kamu membutuhkannya, bukan aku.”
Genggaman di tanganku makin
erat. Tangannya terayun dan menyeka air mataku, mungkin sekaan yang terakhir
yang akan kurasakan dari tangannya yang hangat. Dari sekaan itu ia seperti
ingin berbicara, “Maafkan aku” tapi tetap kata itu tidak terucap.
Akhirnya kami gagal
menyelesaikan sarapan yang harusnya membuat kami lebih bertenaga. Aku
memutuskan untuk kembali ke kos Shena dan mengemasi barang-barangku untuk
kepulanganku ke Jakarta sore nanti. Mungkin perpisahan ini yang dikatakan
sebagai perpisahan yangs sesungguhnya.
Edo masih bersamaku saat ini.
Entah sudah berapa ratus kata maaf yang kudengar siang itu, aku masih tak
bergeming. Membiarkan air mataku terus lancar mengalir dari pelupuk mata,
membasahi tiap barang-barang yang kukemas ke dalam ranselku. Sebenarnya yang
kuinginkan waktu ini juga segera meninggalkan Jogjakarta dan melupakan semua yang terjadi, jika aku diberi
pilihan untuk memilih.
Di Stasiun Tugu ini aku kembali
pada saat-saat ia melepasku untuk ke Jakarta tiga bulan yang lalu. Aku duduk
pada kursi tunggu bersama Edo, suasananya berbeda. Ingin rasanya aku
menyandarkan kepalaku di bahunya untuk meregangkan otot di leherku yang
benar-benar terasa kaku, tapi itu tidak bisa lagi kulakukan dengan leluasa.
Mendadak Edo menggenggam
tanganku, aku memalingkan wajahku padanya. Ia masih menatapku sendu.
“Carla…”
“Iya?”
“Izinkan aku mencintai Shena…”
Deg. Kali ini jantungku berdetak
dengan frekuensi yang maksimal. Rasanya seluruh darahku telah berkumpul di
ubun-ubun dan saat itu juga genggaman tangannya makin erat. Aku menunduk, tak
tahu kata apa yang tepat dan bisa kuucapkan lagi.
Lonceng kereta itu datang
membawa kenangan, bersama bisingnya lokomotif yang menyeruak ruang-ruang di
masa lalu yang mengagumkan. Aku beranjak dari tempat dudukku, seperti magnet,
Edo mengikutiku.
Kepulan asap dari kereta itu
menggumpalkan kenangan yang seharusnya kupendam dalam mesin waktu. Berbagai
kenyataan yang pada akhirnya terjadi. Kepulanganku saat ini membawa pengaruh
yang sangat besar dalam kamus hidupku, pada akhirnya aku mengerti betapa
beratnya mengucapkan ucapan selamat tinggal yang sebenarnya.
Suara deru mesin kereta itu
benar-benar memekakkan telinga, pengumuman keberangkatan itu juga membawa
anganku terbang meninggalkanku.
“Terima kasih ya, Do.” ujarku
pelan, masih berderai air mata.
Edo memelukku erat, mengusap
punggungku yang terasa sangat rapuh. Sekali lagi aku mendengar bisikan di
telingaku.
“Maafkan aku, Carla.”
“Seperti halnya mencintaimu, aku
selalu punya alasan untuk memaafkanmu.”
“Izinkan aku mencintainya.”
“Itu hakmu, Do. Aku pergi…
terima kasih untuk semuanya.”
Aku melepaskan pelukannya, meski
sebenarnya masih ingin berlama-lama lagi dengan kehangatan yang ia ciptakan.
Paling tidak aku pernah mencintainya, meski pada akhirnya
aku yang harus mengalah. Membiarkan gumpalan kenangan itu berbaur dengan deru
bising lokomotif.
Di Stasiun Tugu ini, aku sadar.
Perpisahan yang sebenarnya usai kulewatkan. Aku mengerti. Setiap pertemuan
pasti diiringi perpisahan. Aku paham. Seperti pertemuan, perpisahan juga tidak
ada yang abadi. Biarkan dinginnya rel kereta ini yang menyimpannya.
Menyimpannya untuk kita.