Welcome

Helloo.. Let's enjoy with my blog

Selasa, 23 Desember 2014

STASIUN TUGU



                   STASIUN TUGU

Rembulan yang bersinar memantulkan cahaya remangnya tak begitu membuatku mengenali wajah-wajah di sekitar sini. Berulangkali aku memalingkan kepalaku mencari-cari satu wajah di antara banyak wajah di sini. Seharusnya aku langsung menangkap bayangannya jika sudah menapak di sini, atau mungkin dia tidak ada di sini. Aku masih duduk di kursi sederhana ini bersama tas ransel yang kubawa jauh-jauh dari Jakarta. Jauh-jauh pula mendatangi kota budaya ini hanya untuk dia yang wajahnya saat ini kucari. Sudah satu jam aku duduk di sini dan tidak ada tanda-tanda dia ada di sini. Entah sudah berapa kali aku menengok telepon selulerku, tak ada pesan masuk ataupun telepon masuk. Aku ingat kapan terakhir kali teleponku berdering, saat keberangkatanku tadi pagi. Setelah itu aku yang harus kembali berangan-angan mengenai ini semua. Sekali lagi aku yang harus mengalah dan meneleponnya duluan. Lega. Ia masih mau menerima teleponku.
“Halo?” sapanya dari seberang sana.
“Kamu tidak lupa menjemputku sekarang kan?” tanyaku.
Lama ia tidak menyahut. Lalu beberapa detik kemudian ia kembali berbicara, “Oh iya, maaf lupa, Sayang. Aku jemput sekarang ya? Sabar bentar.”
Aku mengangguk, “Ya.” hanya itu kata yang mampu keluar dari mulut tipisku. Sebenarnya ada banyak kalimat yang mulai tersusun di kepalaku dan menggumpal di sana. tapi aku memutuskan untuk mengatakan padanya secara langsung. Percuma menjelaskan lewar sambungan telepon. Jika ia sedang dalam keadaan yang sulit, aku yakin ia tidak akan pernah berminat mendengarkannya dan bahkan membuang ponselnya jauh dari telinganya jadi ia takkan pernah mendengar celotehanku yang menurutku penting.
Aku kembali mengulur hatiku. Menenangkannya sendirian. Mungkin kali ini aku harus bersyukur, ia menepati janjinya kali ini. janji yang ia ucapkan beberapa menit yang lalu saat aku meneleponnya. Ia menjemputku. Seketika pula ia berlari kecil ke arahku, segumpal senyum ia cairkan untukku. Sesaat ia merengkuh bahuku, memelukku hangat. Menyatukan kembali ruang rindu di antara aku dengannya.
“Maaf ya, tadi sibuk buat tugas. Sudah makan? Makan dulu yuk.” Sergahnya seketika pula saat melepas pelukannya.
Kembali aku mengurai senyuman penuh arti untuknya. Senyum yang sudah tiga bulan ini tak pernah bisa langsung kunampakkan untuknya. Aku rasa ia begitu merindukan senyumku jadi aku memutuskan untuk tetap menampakkan wajah ceria meski hatiku berkata lain. Entah sejak kapan aku mulai lihai berbohong pada diriku sendiri dan besikap berkebalikan dari biasanya. Nyatanya, cinta yang selama ini menguatkan. Cinta yang menurutku murni. Cinta yang menurutku suci. Cinta yang berbeda kurasakan.
Ia membawaku ke suatu kedai sederhana di Kota Pelajar ini, pengapnya ruangan di kedai ini membuat peluhku mengalir lembut di dahiku dan dengan penuh kasih sayang ia menyekanya untukku. Hal sederhana yang membuatku melayang. Kedai ini tidak begitu besar namun tidak juga kecil, ukurannya sedang namun ramai pengunjung. Jadi para pengunjung harus berebut udara bersih di sini, meski sebenarnya lebih banyak udara berpolusi yang dihirup daripada udara bersihnya. Mungkin itu yang membuat dadaku terasa sedikit sesak, atau mungkin ungkapan kebahagiaan yang tak terkira semenjak beberapa menit yang lalu saat aku bertemu dengannya.
Pesanan kami tak kunjung datang, padahal dengan jelas aku menghitungnya dengan jam tanganku, bahwa kami sudah memesannya sejak setengah jam yang lalu. Tapi hal itu tak mengapa, paling tidak hal yang ditunggu adalah hal yang pasti. Paling tidak penantianku ini akan berbuah manis, bukan harapan yang tak kunjung jadi kenyataan.
Beberapa menit kemudian, pesanan kami datang. Menit demi menit kami habiskan dengan cerita-cerita yang menggumpal di tenggorokanku dan menunggu waktu untuk diucapkan. Lelaki berbadan tinggi yang duduk di depanku tepat itu hanya mengangguk-angguk menanggapi ceritaku, sesekali ia membalas dan berpendapat. Tapi kurasa aku yang terlalu egois untuk mengutarakan semua dalam benakku dan tidak memberinya waktu untuk bercerita balik. Jadi pada akhirnya ia hanya memberi anggukan saja. Sikap cueknya yang kurindukan selama tiga bulan ini. Meski pada dasarnya aku sudah sangat berniat untuk tetap menjalani hubungan spesialku dengannya meski jarak yang ratusan kilometer memisahkan. Bagiku, jika memang hanya karena jarak itu semua bisa kuatasi.
Lelaki itu tak henti-hentinya memandangku yang sedang menikmati sepiring nasi goreng, seperti ia tak mau melepas pandangannya dariku. Semenjak itu aku tahu betapa ia juga merasakan luasnya ruang rindu yang membuat dada justru terasa sesak.
“Mau di Jogja sampai kapan?” ujarnya lembut.
Aku memutar otak, mencari jawaban yang tepat. “Belum pasti. Sebenarnya hanya libur dua hari, aku habiskan di sini sama kamu.” Aku mencoba mengurai senyuman lagi, bahagia yang tak terkira.
“Ehm.” Ia hanya menggumam.
“Kamu tidak keberatan?”
“Tentu tidak, Sayang. Aku bahagia kamu ke sini, terima kasih ya.” ujarnya singkat, ia menggenggam tanganku erat.
Usai makan malam di kedai itu, Edo mengajakku mencari tempat singgah yang tepat. Ada salah seorang teman karibku di Jogja dan malam selarut ini aku diantar Edo menuju kos Shena, temanku.
Begitu sampai di depan kos, aku disambut hangat oleh Shena. Dalam pelukan hangat Edo melepasku untuk malam ini. besok akan menjadi hari yang menyenangkan bersamanya, jadi aku harus cepat-cepat beristirahat agar semua terasa lebih mudah.
Ruangan yang cukup luas jika ditempati seorang diri, tatanan kamar yang rapi kurasa akan membuatku nyaman untuk menginap di sini. Ekor mataku menatap pada toples kaca berisi puluhan bunga mawar yang mulai mengering, bahkan sampai benar-benar kering. Hal ini sama dengan kepunyaanku di rumah. Edo yang rajin memberiku setangkai mawar dan aku menyimpannya sampai benar-benar kering, aku selalu mau menyimpan setitik pun kenangan bersamanya. Aku berpikir mungkin pacar Shena memiliki kebiasaan yang sama dengan Edo, memberi bunga mawar murni.
“Mawar dari siapa, Na?”
“Dari cowokku, La. Tiap minggu dia kasih ke aku.” Jelasnya datar.
“Oh, berarti sudah empat bulanan ya, 16 mawar dalam toples.”
Shena mengangguk, tersenyum tipis lalu menata ranselku lagi di samping lemarinya. “Mungkin ini bodoh dan tidak berguna, tapi menyimpan mawar itu membuatku jauh lebih kuat.”
“Hm, iya. Kadang hal sederhana itu bawa makna luar biasa.”
Aku tak tahu sudah berapa lama waktu terlewatkan untuk saling berbagi cerita tentang kesan-kesan kuliahku di Jakarta dan Shena di Jogja, kami saling bertukar pikiran. Jogja memang tempat di mana orang-orang bisa menyatukan rindu, tak ada batasan waktu di sini, semua membaur. Hingga aku dan dia baru sadar ketika mentari pagi di Jogja menyeruak masuk mengintip di balik jendela kamarnya, suasana yang makin menghangatkan. Terlintas sedikit penyesalan mengapa aku mengapa dahulu aku tidak memilih Kota Budaya ini untuk melanjutkan studiku dan memilih meninggalkan Edo, kekasihku, cinta pertamaku.
Hari pertamaku liburan di sini, pukul delapan tepat Edo menjemputku di kos Shena. Tentu saja aku sudah bersiap untuk menjalani apapun kenyataan yang akan terjadi pada hari ini. Kaus warna abu-abu itu masih sama seperti saat aku membelikan itu untuknya, hadiah perpisahanku dengannya. Rambutnya masih sama seperti dulu, tatanan yang tak pernah berubah. Edo menunggu di luar, menyambutku dengan senyuman yang super hangat. Akhirnya kami pergi bersama. Saat itu juga aku baru sadar bahwa Shena sudah meninggalkan kos sejak pagi-pagi buta, mengurusi sesuatu katanya.
Dengan motor kesayangannya, ia membawaku ke sebuah warung bubur ayam di sudut kota Jogja ini. memesan dua mangkuk bubur untuk sarapan, memulai hari ini dengan semangkuk cinta pula.
“Semalam tidur nyenyak?” tanyanya.
“Tentu saja, aku sangat bahagia.”
“Kenapa sepertinya kamu tak rela datang ke sini?”
“Aku bahagia datang ke sini, aku hanya sedih jika nantinya meninggalkan Jogja lagi. Lalu tak tahu kapan bisa bertemu denganmu.” Jelasku dengan suara tertahan, napas tak beraturan.
Edo menunduk, ada semburat wajah sedih yang tergambar di sana. Lelaki ini, aku mempercayainya. Bahkan jika tak ada lagi yang bisa kupercayai di dunia ini, percayalah, aku akan tetap mencintainya. Cintaku tulus padanya, meski aku percaya akan ada banyak kemungkinan yang akan kuhadapi di masa depan.
“Jangan nangis dong, liburan kan buat seneng-seneng, Carla.” Nasihatnya untukku, meski kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telingaku.
Sering aku mendengar banyak nasihat-nasihat darinya jika aku sedang kalut. Saat aku ingin dia datang dalam hari-hariku dan memelukku saat aku terpuruk. Meski saat itu aku sadar juga, ia memelukku dari doa-doanya.
Edo menatapku sayu, ada sesuatu yang ingin ia katakan lagi tapi ia cukup terlalu misterius untuk kupahami. Dia adalah satu-satunya lelaki yang terlalu misterius untukku, tapi jika aku diberi waktu untuk mengulang, jelas aku akan memilihnya lagi.
“Maafkan aku, ya. Harusnya aku tetap ada di sini, tapi…”
“Ssstt! Kamu bicara apa sih? Tenang aja, tidak masalah. Semua akan baik-baik saja.”
“Iya aku tahu.” Ujarku singkat.
“Aku ke WC dulu ya, bentar.” Pamitnya padaku.
Edo meninggalkan ponselnya di meja, aku mengambilnya. Sesaat mengotak-atik ponselnya, membuka kotak pesannya. Entah apa maksud dari isi pesan yang ada di dalamnya, aku tak tahu pasti. Tapi di sana terdapat ratusan pesan dari Shena, mereka tampak akrab dalam obrolan itu. sejak kapan pula aku merasa mulai lihai merasakan api cemburu yang mulai membakar hatiku perlahan-lahan, meski itu tak mengurangi sedikitpun rasa sayangku pada Edo.
Sampai pada akhirnya kau menemukan sebuah pesan yang kurasa isinya menunjukkan betapa mereka sangat dekat.
Minggu ini tidak ada mawar dulu, ya. Mungkin minggu depan. Maafkan aku, sepertinya kamu terlalu terluka.
Deg. Napasku menjadi tak beraturan, detak jantungku tak menentu. Kadang lamban, tapi kali ini terasa begitu cepat dan Edo tak juga kembali ke sini.
“Kamu kasih apa ke Shena, Yang?”
Aku melihat Edo seperti tergagap menjawabnya, ia duduk dengan tenang. “Kasih apa memangnya?”
“Itu di ponselmu. Mawar ya? Shena minta dibeliin mawar gitu?”
“Iya, dia minta tolong. Tidak masalah kan?”
Meski rasanya aku ingin marah, tapi aku menahannya, aku tak mau merusak perasaannya dnegan perasaan cemburuku yang terlampau bodoh ini.
“Dia kan juga temanmu, tidak masalah kok.” Jawabku singkat, kuharap dia tidak mempermainkan jawabanku ini. “Hari ini mau kemana?”
“Ehm, temani aku menyiapkan perlengkapan untuk Pendidikan Dasar mau?”
“Wah! Akan menyenangkan. Siap kapten!”
Usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan pada hari ini dengan segala persiapan untuk acara di kampusnya. Paling tidak dengan menemaninya, aku bisa memilihkan lagi suatu hal yang nampaknya cocok untuknya atau memang dibutuhkan. Sudah tiga bulan pula aku tidak menemaninya belanja bersama, aku merindukan saat-saat itu, tentu saja.
Pergi ke tempat persewaan barang-barang, membeli perlengkapan yang lain dari satu toko ke toko lain. Menyusuri sudut kota Jogja dengan peluh yang kadang menetes. Hingga semua persiapan selesai saat matahari sudah tergelincir di ufuk barat.
“Hari ini melelahkan sekali. Terima kasih, ya!”
“Tapi aku bahagia bisa menemanimu lagi. Sangat kurindukan.”
“Mau makan malam bersama?” tawarnya padaku.
“Tidak, hari ini mau makan bersama Shena. Malam ini untuk temanku, sampai jumpa besok lagi ya. terima kasih untuk hari ini.”
Salam perpisahan yang memuakkan. Aku benci setiap kali bertemu dengannya dan harus mengucap ucapan perpisahan. Seperti aku dan dia tersatukan oleh perpisahan. Tapi pada dasarnya aku mengerti, bahwa setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Aku juga percaya, seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi. Hanya berbicara tentang waktu dan semua akan terjawab, pelan saja.
Edo hanya mengangguk, satu kecupan hangat di kening untuk perpisahan hari ini. ia tersenyum hangat lalu meninggalkanku di depan kos Shena. Dengan langkah gontai aku memasuki kamar kosnya, Shena masih sibuk dengan urusannya dengan komputer lipat berwarna hitam kepunyaannya.
“Kok sudah pulang? Sudah puas jalan-jalannya?” ujarnya saat aku menepuk punggungnya pelan.
“Ehm, tadi bantuin dia siap-siap buat Pendidikan dasar di kampusnya minggu depan. Tidak terasa sekali besok malam sudah harus kembali ke Jakarta, berat meninggalkan Jogja. Banyak hal yang bisa membuatku merasa bahagia walaupun itu sederhana, di sini.”
“Percayalah, ada banyak hal yang akan membuatmu bahagia juga di Jakarta. Kamu sudah memilih untuk di sana, banyak kenyataan dan kemungkinan yang akan kamu dapat di sana. jadi, jalani saja semuanya.”
Shena menatapku sayu, pandangannya sangat redup. Aku tak tahu pasti maksudnya apa. singkatnya, setelah ia merapikan komputer lipatnya ia segera bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya, rupanya tidak berselera untuk makan malam hari ini. Dia bilang banyak yang harus dikerjakan besok, jadi dia harus cukup beristirahat. Dan aku selalu bisa merasakan kesepian kapanpun itu, bahkan saat Shena tertidur.
Tidak ada yang bisa kulakukan malam ini, termenung memandangi puluhan bunga mawar yang sebagian sudah mengering. Mengingatkanku pada mawar-mawarku yang lain juga di rumah. Saat termenung, mendadak ponsel Shena berdering dan betapa kagetnya diriku saat melihat nama Edo di layarnya. Entah mengapa rasa cemburu itu mulai menggumpal lagi di kepalaku. Aku membuka pesan itu.
Selamat malem, Sayang. Maaf ya, hari ini kamu bener-bener kuacuhkan. Sudah kubilang sejak awal kau memang harus berbagi hati, maaf.
Deg. Jantungku berdesir, urat nadiku serasa tersayat halus. Mataku terasa panas hingga berhasil melelehkan butiran es air mata di kelopak mataku, kini berhasil keluar dengan mudah di sana.
Tak kuasa aku membaca semua lanjutan obrolan mereka, aku merasa satu persatu urat nadiku melepaskan diri dari diriku. Aku seperti kehilangan kendali. Jujur jika saat itu aku mau, aku bisa saja menerkam Shena dengan pisau, membunuh pengkhianat seperti dia. Tapi sejenak dalam tangisku aku berpikir, “Siapa yang harus disalahkan?” otakku mulai berpikir keras. Aku masih tak tahu siapa sebenarnya yang pantas disalahkan. Shena yang tega mengkhianati temannya sendiri, mantan temanku. Edo yang jahat dengan pengkhianatan yang sama atau aku yang tidak pernah ada di saat Edo terluka dan saat dia bahagia jadi dia mencari seseorang yang harusnya memang ada di sampingnya, dan itu bukan aku.
Napasku terasa berat, aku tidak tega membangunkan Shena untuk meminta konfirmasi lebih jauh dari ini semua. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, jika memang Edo sudah tidak mencintaiku lagi dan dia lebih mencintai Shena, harusnya ia sudah memutuskan hubungan ini sejak dulu. Jika dia serius dengan hubungannya dengan Shena, ia harusnya memilihnya, bukan tetap memilih untuk mempertahankan hubungannya denganku. Meski aku terus membanjiri hatiku dengan puluhan kalimat istighfar agar jiwaku sedikit tenteram. Kurasa itu sedikit berhasil.
Sedetik aku berpikir untuk melupakan ini semua dan menyelesaikanya lagi besok dengan Edo. Tapi pada detik selanjutnya aku berpikir, betapa egoisnya aku jika aku harus tetap mempertahankan hubungan ini dengan ketidaksediaanku bersama di sampingnya untuk empat tahun ke depan lagi. Menyiksanya lagi, menyiksaku juga.
Hanya satu keputusan yang akhirnya kubuat untuk malam ini. memutuskan untuk berhenti menangis dan segera tidur agar keesokan harinya aku nampak bahagia seperti tidak ada apapun yang terjadi, kurasa itu iden yang baik. Aku tak mau menemui Edo dengan mata yang sembab.
Pada akhirnya aku berhasil dengan satu keputusan yang kubuat semalam. Mataku sudah tidak bengkak lagi pagi ini, dan aku terlambat untuk menemui Shena. Ia sudah meninggalkan kamar kos sejak pagi-pagi buta, mungkin ia menghindariku. Terhindar dari pertanyaan-pertanyaan yang akan menusuk-nusuk jantungnya.
Ponselku berdering. Ada nama Edo di sana, lelaki yang mengkhianatiku. Entah apa maksud ia menghubungiku pagi ini, mungkin salah satu alasan untuk menyembunyikan pengkhianatannya lagi.
“Halo?” sapaku lemah
“Selamat pagi. Hari ini mau kemana?” tanyanya penuh semangat.
Beberapa detik aku hanya terdiam, tak ada yang bisa diungkapkan lagi, kurasa.
“Aku jemput kamu sekarang ya?” tawarnya lagi saat ia tak segera menerima jawaban dari pertanyaannya.
“Hm. Aku akan bersiap-siap.”
Aku segera bergegas menyelesaikan ritual mandi dan berganti baju sepantasnya. Usai itu semua, Edo tepat waktu, ia sudah berada di depan kos. Kaus warna hitam dan jaket warna abu-abu itu melekat smepurna dalam tubuhnya yang proporsional.
“Ada apa?” sapanya sata pertama kali menatap raut mukaku yang mungkin berbeda dari biasanya, dia masih perhatian, napasku sesak lagi.
Aku menggeleng. Kurasa ia akan tahu dengan satu bahasa tubuh yang kuberikan untuknya itu. meski aku tak yakin atas semuanya.
“Sarapan dulu aja yuk.”
Aku mengangguk.
Kali ini ia membawaku pada sebuah warung nasi gudeg yang cukup besar, kurasa restoran ini benar-benar menyuguhkan makanan yang lezat. Karena pagi ini sudah dipenuhi dengan banyak pengunjung yang datang dan pergi menyesaki ruangan luas ini.
“Sebenernya, kamu sama Shena ada masalah apa?” pancingku.
“Memangnya kenapa?”
“Semalam aku baca SMS dari kamu, minta maaf sama Shena. Kamu berbuat salah apa sama dia?”
Edo terdiam. “Maafkan aku, aku yang harusnya minta maaf sama kamu. aku…”
“Aku tidak pernah membayangkan mengapa kemungkinan ini yang harus terjadi. Sejak awal memang aku yang salah, meninggalkanmu. Ini bukan sepenuhnya salahmu, Edo.”
Edo menunduk, lalu menatapku lagi. Aku tak kuasa menahan tetesan air mata yang mengalir begitu derasnya di pelupuk mataku. Aku sedih merasakan itu semua, jantungku terasa ingin berhenti.
“Kita mulai dari awal lagi.”
“Tidak bisa, Do. Pada akhirnya memang kenyataan ini harus terjadi, hadapi saja.”
“Kenapa? Kamu tidak memaafkanku?”
“Aku selalu bisa punya alasan untuk tetap menyayangimu, apalagi untuk memaafkanmu. Itu mudah buatku, hanya saja…”
“Apa?”
“Betapa egoisnya aku jika memaksamu mempertahankan apa yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi.”
“Maaf aku tidak jujur, tidak terbuka, semua berlalu seperti angin. Waktupun tak bisa menjawabnya nanti,” suara Edo melemah, ia menatapku dengan pandangan yang penuh rasa bersalah. Membuatku merasa seperti dadaku tertancap sebilah pisau yang tajam, teramat tajam.
“Kamu tidak salah, Do. Semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai. Berhak untuk memilih juga, termasuk aku yang memilih untuk mengakhiri ini semua. Maaf aku selama ini egois, memaksakan perasaanmu.”
Edo menggenggam erat tanganku, kami seolah tidak peduli dengan makanan yang tersaji di meja. Kami konsentrasi dengan urusan memuakkan ini.
“Kalau kamu terluka, kenapa kamu tetap melakukan ini? Kenapa kita tidak memulainya dari awal lagi?”
“Aku capek, Do. Awal yang indah itu cuma ada di masa lalu, aku tidak yakin itu semua akan terulang lagi kalau kita memulainya. Aku bahagia pernah mengenalmu, aku sangat berterimakasih untuk semua yang kamu berikan padaku, yang kau tak bisa membalasnya. Hanya Shena yang ada untukmu, kamu membutuhkannya, bukan aku.”
Genggaman di tanganku makin erat. Tangannya terayun dan menyeka air mataku, mungkin sekaan yang terakhir yang akan kurasakan dari tangannya yang hangat. Dari sekaan itu ia seperti ingin berbicara, “Maafkan aku” tapi tetap kata itu tidak terucap.
Akhirnya kami gagal menyelesaikan sarapan yang harusnya membuat kami lebih bertenaga. Aku memutuskan untuk kembali ke kos Shena dan mengemasi barang-barangku untuk kepulanganku ke Jakarta sore nanti. Mungkin perpisahan ini yang dikatakan sebagai perpisahan yangs sesungguhnya.
Edo masih bersamaku saat ini. Entah sudah berapa ratus kata maaf yang kudengar siang itu, aku masih tak bergeming. Membiarkan air mataku terus lancar mengalir dari pelupuk mata, membasahi tiap barang-barang yang kukemas ke dalam ranselku. Sebenarnya yang kuinginkan waktu ini juga segera meninggalkan Jogjakarta dan melupakan semua yang terjadi, jika aku diberi pilihan untuk memilih.
Di Stasiun Tugu ini aku kembali pada saat-saat ia melepasku untuk ke Jakarta tiga bulan yang lalu. Aku duduk pada kursi tunggu bersama Edo, suasananya berbeda. Ingin rasanya aku menyandarkan kepalaku di bahunya untuk meregangkan otot di leherku yang benar-benar terasa kaku, tapi itu tidak bisa lagi kulakukan dengan leluasa.
Mendadak Edo menggenggam tanganku, aku memalingkan wajahku padanya. Ia masih menatapku sendu.
“Carla…”
“Iya?”
“Izinkan aku mencintai Shena…”
Deg. Kali ini jantungku berdetak dengan frekuensi yang maksimal. Rasanya seluruh darahku telah berkumpul di ubun-ubun dan saat itu juga genggaman tangannya makin erat. Aku menunduk, tak tahu kata apa yang tepat dan bisa kuucapkan lagi.
Lonceng kereta itu datang membawa kenangan, bersama bisingnya lokomotif yang menyeruak ruang-ruang di masa lalu yang mengagumkan. Aku beranjak dari tempat dudukku, seperti magnet, Edo mengikutiku.
Kepulan asap dari kereta itu menggumpalkan kenangan yang seharusnya kupendam dalam mesin waktu. Berbagai kenyataan yang pada akhirnya terjadi. Kepulanganku saat ini membawa pengaruh yang sangat besar dalam kamus hidupku, pada akhirnya aku mengerti betapa beratnya mengucapkan ucapan selamat tinggal yang sebenarnya.
Suara deru mesin kereta itu benar-benar memekakkan telinga, pengumuman keberangkatan itu juga membawa anganku terbang meninggalkanku.
“Terima kasih ya, Do.” ujarku pelan, masih berderai air mata.
Edo memelukku erat, mengusap punggungku yang terasa sangat rapuh. Sekali lagi aku mendengar bisikan di telingaku.
“Maafkan aku, Carla.”
“Seperti halnya mencintaimu, aku selalu punya alasan untuk memaafkanmu.”
“Izinkan aku mencintainya.”
“Itu hakmu, Do. Aku pergi… terima kasih untuk semuanya.”
Aku melepaskan pelukannya, meski sebenarnya masih ingin berlama-lama lagi dengan kehangatan yang ia ciptakan.
Paling tidak  aku pernah mencintainya, meski pada akhirnya aku yang harus mengalah. Membiarkan gumpalan kenangan itu berbaur dengan deru bising lokomotif.
Di Stasiun Tugu ini, aku sadar. Perpisahan yang sebenarnya usai kulewatkan. Aku mengerti. Setiap pertemuan pasti diiringi perpisahan. Aku paham. Seperti pertemuan, perpisahan juga tidak ada yang abadi. Biarkan dinginnya rel kereta ini yang menyimpannya. Menyimpannya untuk kita.















0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan Komentar Anda dengan Sopan dan Tidak Mengandung Unsur Sara