Welcome

Helloo.. Let's enjoy with my blog

Selasa, 23 Desember 2014

MALAIKAT KEGELAPAN



Malaikat Kegelapan

Faiz menelusuri lorong-lorong di kampusnya, lelaki yang nyaris sempurna dengan penampilan fisiknya itu menenteng beberapa buku-buku Psikologi. Ya, sesuai dengan program studinya, Psikologi di salah satu Universitas Negeri favorit di Yogyakarta. Beberapa hari ini hatinya sedikit terusik oleh sosok yang sering ia temui dan ingin sekali berkenalan dengan dia, seorang mahasiswi Manajemen di Universitas yang sama dengannya juga. Mereka terjebak dalam satu kelas yang sama di semester 4 ini dan dua kali dalam seminggu sering sekali bertemu di kelas yang sama meski fakultas dan jurusannya jauh berbeda.
Akhirnya, Faiz dapat meraih kelas D di gedung utama fakultas Psikologi. Dia sibuk memutar-mutar ekor matanya untuk menangkap bayangan gadis itu. dan beruntung, gadis yang ia tunggu-tunggu datangnya siang ini duduk tepat di samping kirinya.
“Hai!” sapanya lemah.
“Hai…” gadis itu menimpali sekenanya, sesingkat mungkin.
Faiz menarik napas dalam-dalam, “Aku minta maaf kemarin tidak sempat memperkenalkan namaku. Aku Faiz, dari jurusan Psikologi dan kita akan bertemu dua kali seminggu di mata kuliah Agama dan Pancasila.” Faiz berpanjang lebar.
“Gue Sista, Manajemen. Biasa aja sih, toh kenal gak kenal gak ngaruh juga buat idup gue.”
“Ada yang salah sama aku ya? Kenapa?”
“Iya. Elo terlalu melankolis dengan ‘aku-kamu’ dan gue dengan ‘gue-elo’. Puas?”
“Jadi masalahnya di mana?”
“Kita gak bakal bisa nyambung kalo ngobrol. Elo terlalu formal…”
Faiz mendengus, ia sedikit kecewa dengan awal perkenalannya yang memuakkan. Ia sendiri berpikir apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, adakah yang salah jika ia mau sedikit sopan dengan ‘aku-kamu’-nya yang memang terdengar kaku.
“Aku akan bersenang hati kalo kamu mau makan siang bareng hari ini. Buat salam perkenalan, bisa?” tawarnya dengan penuh ketulusan.
“Sori, gue sibuk. Kayaknya harus langsung ke kelas lain. Mungkin lain kali aja.”
“Oke-oke, gak masalah.” Dialog menyebalkan itu berakhir.
OoO
Tak akan ada yang spesial di mata Sista, dia hanya akan menganggap semua yang menghampirinya sebagai angin lalu. Terjebak dalam keluarga yang ‘broken home’ tak begitu bersahabat dengannya dan orang-orang di sekitarnya. Sejak SMA ia tinggal bersama Tantenya di Jakarta dan ketika ia resmi diterima di Universitas di Jogja ini, dia lepas kendali dan tak pernah bertegur sapa lagi dengan keluarganya di Jakarta. Mamanya seorang manager di salah satu perusahaan besar di Jakarta, Papanya seorang pegawai di instansi pemerintahan. Dan, kedua orang tuanya berpisah sejak ia kelas satu SMA. Saat-saat yang sangat berat dalam hidupnya adalah ketika dua orang yang seharusnya menjaganya itu meninggalkannya sendiri dan memilihnya untuk dititipkan ke Tante Vivi. Hal itu membentuk karakter yang menyedihkan, Sista yang liar dan anti sosial. Meski dalam sisi tersendiri ia adalah sosok yang sangat cerdas.
Sejak semester dua, Sista tidak pernah menghubungi keluarganya di Jakarta. Begitu pula keluarganya, Tante Vivi yang menjadi satu-satunya malaikat baginya juga pergi entah kemana. Kiriman uang yang seharusnya datang sebulan sekali dengan nominal lima juta rupiah pun menghilang sejak semester tiga. Hal itu membuat Sista makin terpukul dan parahnya, Sista menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Ia masuk dalam dunia kegelapan. Ia menjadi malaikat kegelapan.
Uang yang ia dapat dari ‘pekerjaannya’ itu benar-benar mampu mencukupi kebutuhan perkuliahannya, makan sehari-hari, dan hidup normal seperti manusia lain. Meski banyak waktunya yang tersita untuk ‘pekerjaannya’ itu. selama ini ia tidak pernah mengenal apa itu ‘cinta’ yang sebenarnya. Ia termakan oleh kekecewaan yang dibuat oleh orang tuanya, cinta yang diselimuti oleh pengkhianatan-pengkhianatan. Dan parahnya, sampai saat ini, Sista tak percaya cinta. Meski memang banyak sekali lelaki-lelaki rupawan, kehidupan yang nyaris sempurna mencoba menjalin hubungan serius dengan Sista. Tak ada satupun yang nampak baik di matanya. Atau mungkin dia yang merasa tidak cukup baik untuk mereka.
Satu rumah minimalis dan sepeda motor berhasil ia dapatkan dengan ‘pekerjaan’nya itu. sisanya ia gunakan untuk kuliah dan ditabung, sisi gelap yang berhasil disembunyikan dari orang lain itu membuatnya seolah-olah datang dari planet lain.
OoO
Lelaki berbadan tegap itu tak pernah merasakan hal yang ia rasakan seperti saat ini. Gejolak rasa yang benar-benar membuatnya mabuk. Sista dengan pancaran misterius dan sisi terang yang selalu menonjol. Mungkin memang tak bisa dipungkiri sudah berapa banyaknya wanita-wanita yang mendekatinya. Mulai dari; gadis muslimah yang hapal Al-Qur’an, puteri petinggi pesantren, mahasiswi kedokteran cantik-kaya-baik, mahasiswi Sastra Arab di Al-Azhar Kairo, beberapa gadis-gadis populer lainnya. Tak ada satupun yang menarik hatinya untuk mengenal lebih lanjut. Tapi untuk Sista, semua mendadak berubah. Gravitasi selalu mencoba menariknya dari muka Bumi jika ia bertatap muka dengan Sista. Berbeda dengan gadis-gadis yang mengelilinginya, banyak diantara mereka yang rapi dengan jilbab yang menyelimutinya, sedangkan Sista? Rambutnya yang bergelombang itu masih bebas berkibar dengan indahnya, menggulung-gulung bagai ombak di samudra, memabukkan.
OoO
“Kamu bilang sibuk? Akhirnya ketemu juga di kantin,” Faiz duduk tepat di kursi kayu dekat Sista yang sudah menikmati semangkuk mie dok-dok pesanannya tadi.
“Masalah elo apa sama gue? Kantin ini bebas dan gue juga bebas nentuin kesibukan gue,”
Faiz hanya melempar senyum kecil pada Sista, meski Sista sama sekali tidak mempedulikannya. Ia menatap pada selembar kertas yang tertumpang pada buku tebal bertuliskan “Management” itu, sebuah nama yang undah tercetak di sana.
“Jadi nama kamu, Mawwadatusista Rahmah? Bagus banget,”
“Sampai sekarang gue aja gak tahu tuh maknanya apa, biasa aja, gak ada yang spesial buat gue.”
“Mawwadah tuh cinta, dan Rahmah tuh sayang, kalo Sista, mungkin dari Shita kali ya.”
“Shita?”
“Musim dingin, artinya,”
“Menurut elo, nama gue artinya apa?”
“Cinta dan sayang yang mendinginkan hati, menyejukkan hati… gimana menurut kamu?”
“Haha. Lucu banget yah, gue aja sama sekali gak percaya tuh sayang, cinta apalah, kenapa nama gue kayak gitu…”
Pembicaraan hangat pun terjadi, saling bertukar informasi tentang nama-nama dan artiannya. Maklum, sebagai anak seorang Kiai, Faiz paham tentang hal kecil itu.
“Masa sih? Kamu gak percaya cinta? Kamu ada di dunia ini di dasari oleh cinta dan sayang orang tua kamu dong, Sis.”
“Elo udah sok tahu masalah cinta, sekarang sok tahu masalah orang tua gue. Elo gak tau apa-apa sih, gak usah sok tahu! Gue gak suka.”
Mulut Faiz yang tadinya menutup mendadak mengaga, ia menatap Sista yang mendorong kursi dan meninggalkan dirinya.
Maaf, Sis. Aku salah ngomong, mungkin.
Diam-diam Faiz mengikuti langkah kaki Sista yang mentap ke parkiran. Masih dalam misinya mengetahui Sista lebih mendalam lagi. Dia mengikuti Sista hingga ke rumahnya, rumah minimalis yang bersih dan terlihat segar tapi sama sekali tidak nampak adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Begitu Sista memasuki rumahnya, ia langsung beringsut menjauh.
Malamnya, Faiz mendatangi rumah Sista lagi. Diketuknya pintu rumah modern-minimalis itu dengan mantap dan tak lama, Sista membukanya.
“Assallamu’alaikum,” salamnya agak berat
Sista mencoba membuka pintunya lebih lebar lagi, sesaat tidak menyangka Faiz akan menemukan rumahnya. “Elo ngebuntutin gue? Ngapain elo ke sini? Mau elo apa?”
“Kamu belum jawab salamku, Sis,” Faiz mendengus, ada rasa sesak yang mendalam saat salamnya tak terbalas.
“Wa’alaikumsallam.” Jawabnya singkat, Sista berharap dengan ia menjawab salamnya, Faiz segera pergi. “Jadi mau elo apa?”
“Aku mau ngajak kamu ke Coffee Break bisa? Ada sesuatu yang mau kubicarakan…”
Sista mendengus, tak tahu apa yang diinginkan lelaki ini. “Kenapa harus ke sana?”
Faiz hanya mengangkat kedua bahunya. Sista terdiam untuk beberapa saat. Mungkin memikirkan dan menimbang-nimbang ajakan Faiz, ada rasa penasaran yang mendalam juga di dasar hatinya. “Oke, tunggu bentar gue ganti baju.”
OoO
Mereka berdua berhasil sampai di Coffe Break dengan mobil yang dibawa Faiz. Segelas Gingerbread latte dan Iced Caffe Latte sudah ada di depan mereka, serta beberapa roti yang sama sekali belum tersentuh sejak pesanannya datang.
“Maksud elo apa ngajak gue ke sini?”
Jemari Faiz mengitari bibir gelasnya, menunduk. “Aku cuma mau kenal kamu lebih deket aja, aku liat kamu jarang banget ada quality time sama temen-temen kamu. kalo ada masalah, cerita aja gak pa-pa. Aku selalu siap denger ceritamu.”
Well, first at all. Gue ngrasa gak nyaman dengan gaya bahasa kita yang aneh. Elo-gue, kamu-aku, beda… kita gak nyambung!” cetus Sista putus asa.
“Sori, deh. Aku gak biasa pake bahasa gitu. Kalo dipaksakan kita bisa kok, soalnya kan semua hal yang biasa itu emang karena dipaksakan.”
Sista menyesap segelas Iced caffe Latte yang ia pesan tadi. Lalu, “elo gak cukup tahu tentang gue, Iz. Gak ada yang peduli sama gue, elo tau, semua orang yang gue sayangin pergi satu persatu dalam idup gue. Gak ada cinta yang bisa gue percaya lagi. Nyokap bokap gue, tante gue, gue gak pernah kenal mereka lagi sekarang. Gue rasa gak ada yang mau dengerin gue lagi. Gue pilih untuk menepi dengan kehidupan gue sekarang…”
“Cara kamu salah, Sis. Ada kok orang yang mau peduli kamu, termasuk aku…”
“Gue udah bilang ke elo, elo gak cukup tau tentang gue! Kalo elo mau, elo dengerin cerita gue. Kalo elo kebanyakan komentar, elo gak ada bedanya sama makhluk-makhluk di luar sana!”
Refleks Faiz menggenggam tangan Sista yang sedari tadi tertumpang manis di bangku, refleks pula Sista menariknya. “Sori, deh! Aku gak tahu, oke, kita mulai lagi… jadi kamu kuliah karena kamu sendiri yang usahain?”
Sista mengangguk. Rasanya seperti ada pedang besi panas yang menghunus rongga dadanya, sangat sesak sekali rasanya. Mengingat ‘pekerjaan’ yang selama ini menghidupinya sangat menjijikkan. Mungkin Faiz akan menghindarinya jika mengetahui ‘pekerjaan’nya itu.
“Kamu hebat, Sis. Kuat. Belum tentu jika mereka dihadapkan di posisi kamu, mereka bakal kuat. Jangan pikirin mereka. Biarkan mereka mau berkata apa tentang kamu.”
Menit demi menit dilewati dengan puluhan cerita-cerita menarik yang saling ditukar satu sama lain. Sista mengerti beberapa seluk beluk Faiz, anak seorang Kiai yang terkenal dengan banyak cabang pesantren yang menyebar di Jogja dan sekitarnya. Dan Muhammad Faiz Zulkarnain yang dikelilingi gadis-gadis ahli kitab-muslimah-baik-cantik yang sangat berbeda jauh dengan Sista. Ada lubang besar di hatinya menyadari bahwa lelaki yang dihadapinya ini, yang baru saja dikenalnya dan teramat baik kepadanya itu, takkan mungkin bisa mendengar cerita-ceritanya lagi lain kali ketika Faiz sudah menjatuhkan pilihannya kepada salah satu diantara gadis luar biasa itu.
Ada sebersit di pikiran Sista untuk memilih menjauh dari Faiz. Lagi-lagi ketika cinta mulai menyapanya, ia menghindarinya. Takut risiko pengkhianatan itu akan menjumpainya lagi. Dan, tekad Sista sudah bulat. Lelaki sempurna seperti Faiz tidak berhak berteman dengan gadis liar-brutal sepertinya, sedangkan faiz dikelilingi gadis-gadis luar biasa. Latar belakang agama yang sangat kental, sedangkan dirinya hanya menghayatinya tak begitu dalam. Kesempurnaan Faiz yang berbeda jauh dengannya. Sista mundur. Tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari Faiz, mungkin cerita-cerita yang ia berikan pada Faiz itu yang membuatnya mendadak merindukan saat-saat adanya kasih sayang. Dan untuk sekali dalam hidup Sista seusai ia dikecewakan, Sista merasakannya lagi. Dan sekali lagi ia harus menampiknya. Merelakan lagi Faiz yang super sempurna itu bahagia dengan gadis pilihannya nanti.
“Aku gak pernah merasakan jatuh cinta yang terlalu mendalam selama ini.”
“Oh ya?” balas Sista singkat. Otaknya masih menimbang-nimbang tekadnya untuk menjauh.
“Kamu?”
Sista melamun. Angannya masih terbang kesana-kemari.
“Hey!” bentak Faiz seraya melambaikan tangannya melewati wajah Sista yang sempurna. Kulih putih gading, hidung mancung dan bibir tipisnya, matanya yang bulat dihiasi bulu mata indah. Alisnya tertata rapi, semua terlihat sempurna. Seperti malaikat. Malaikat kegelapan.
“Gue gak pernah merasakan itu sejak bokap nyokap gue cerai. Semua terlihat biasa aja.”
“Kamu gak pernah pacaran?”
“Sama sekali gak pernah!” jelas Sista mantap, bibirnya nyengir.
Ada udara sejuk yang berembus syahdu setelah mendengar ungkapan Sista. Ada sisi terang lagi dari Sista, ia tak pernah menjalin hubungan serius dengan orang lain. Artinya, memang akan ada satu lelaki saja yang ia cintai kelak. Dan tidak ada kenangan-kenangan tentang siapa mantan kekasihnya nanti.
“Udah larut malam, kita pulang aja, Iz.” Ajak Sista dan langsung disetujui oleh Faiz.
OoO
Hari ini tidak ada jadwal perkuliahan, Sista bisa istirahat sejenak. Minggu ini juga ia harus mengantarkan ‘pesanan’ ke beberapa tempat. Pelan ia membuka kertas putih di balik buku “Management”nya itu, ada beberapa nama dan daftar alamat di sana. secepat kilat menyalinnya pada beberapa kertas kecil yang lain dan menempelkannya pada kardus-kardus kecil yang ia siapkan tadi.
Ia memasukkan beberapa bungkusan plastik putih berisi sesuatu. Rapi ia membungkusnya pada bungkusan cokelat, ada beberapa kardus kecil yang ia susun. Setelah itu ia memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam yang lain dan terakhir pada tas ransel warna hitam. Ia mulai berganti pakaian, kaus hitam lengan panjang, celana jins, dan topi yang menutupi separuh mukanya sudah terpasang rapi. Saatnya mengantar ‘pesanan’.
Setelah yakin semua siap, Sista menyiapkan sepeda motornya dan mengantarkan semua barang ‘pesanan’ itu.
Sista sudah terbiasa memasuki lorong-lorong gelap-lembab yang seirama dengan julukannya sebagai “malaikat kegelapan”.
Seiring langkah kakinya, ia makin yakin dengan keputusannya untuk menjauhi Faiz. Lelaki itu terlalu istimewa jika harus mengenalnya. Terlalu rumit masalahnya.
OoO
Hari pertama misinya menjauhi Faiz, ia sengaja tidak masuk mata kuliah Agama dan Pancasila minggu ini. Jadi ia tidak terlalu sering melihat Faiz. Ponselnya juga tak ia hiraukan. Puluhan chat yang ia terima juga sama sekali tidak dipedulikan.
Hingga tiba saatnya Faiz geram melihat ulah Sista yang berubah seketika. Ia sadar, ada yang salah diantara mereka dan semua harus diselesaikan segera. Jika tidak, mungkin akan ada kesakitan yang lebih menyayat lagi.
Kali ini Sista tak bisa menghindar lagi. Faiz menemuinya di rumah, salah satu tempat di mana ia biasa bersembunyi.
“Kamu kenapa sih, Sis? Ada yang salah sama aku? Kalo kamu diem gini gimana aku bisa tahu masalahmu?”
“Kita yang salah. Gue harusnya gak kenal elo, Iz. Kita jauh beda, elo gak tahu gue.”
“Aku ‘kan bilang, aku mau denger semua cerita kamu. kamu harus cerita biar aku tahu dan kasih solusi. Kamu tahu? Paling gak dengan kamu cerita, orang lain tuh bakal ngerti gimana rasa sakit kamu!”
“Bohong! Gue cerita ke elo, gak bakal ngerubah satu milimeter pun idup gue! Desah napas gue selalu diselimuti pengkhianatan, kekecewaan, dan kebencian! Selama ini elo nilai gue dari sisi terang aja, Iz. Elo sama sekali gak tahu sisi gelap gue! Elo menilai secara sepihak dan elo salah! Jangan bikin idup elo jadi gak berguna daripada idup gue!”
Faiz mematung beberapa saat. Lalu, “Siapa sih yang gak kenal kamu? pengedar narkoba kelas kakap, aku gak peduli kelas teri ato kakap. Yang jelas, banyak orang yang tahu kamu. sabu, ekstasi, apa lagi? Apa lagi? Datang di setiap rutan-rutan dan pusat rehabilitasi buat ngasih itu, kamu bunuh mereka dengan kenikmatan mereka sendiri.”
“Salah gue? Tau gitu mereka juga rela bayar gue banyak duit Cuma buat dapetin satu gram sabu! Mutualisme! Gue butuh duit mereka, mereka butuh idup juga! Gue bakal lepas sama dunia ini, gue janji… tapi gue harus menyelesaikan kuliah gue. Elo gak pernah tahu gimana gue? Gue idup sebatang kara di sini, idup yang begitu keras ini gue jalanin sendirian, dan gak itu aja. Parahnya, gak ada satu orang pun yang peduli sama gue bahkan ngasih satu keping hati mereka buat gue!”
“Aku peduli sama kamu. Aku rela kasih sekeping hatiku, dua keping, buat kamu!”
Tak terasa air mata mulai menggenang di kelopak mata Sista, wajahnya yang putih kini memerah. “Elo salah, Iz. Elo mundur aja! Dunia gue terlalu gelap buat elo!”
“Aku yakin kamu bukan pemakai, kamu hanya butuh uang mereka dan elo bukan orang tolol yang pake itu buat selesaikan masalah!”
“Tapi, gue udah bunuh banyak orang! gue bunuh mereka pelan-pelan, bahkan mereka sebut gue jadi malaikat bagi idup mereka, betapa parahnya kan? Elo tahu gimana gue dikejar rasa bersalah tiap hari? Tapi GUE GAK PUNYA PILIHAN!”
Faiz menarik napas dalam-dalam, ia terduduk di sofa warna merah bata itu tepat di samping Sista yang mulai terisak. “Kalo kamu mau, aku kasih pilihan ke kamu…, jauhin dunia gelapmu. Mulai dari awal, ada yang lebih halal buat kamu, pelan-pelan aja.”
“Elo pikir gue manusia bodoh? Gue udah nyoba, mereka tetep ngejar gue dan bakal sama-sama narik gue ke penjara kalo gue berhenti ngasih mereka ekstasi. Idup gue tergantung di sini, jantung gue serasa diambil!”
Mereka berdua terjebak dalam situasi mencekam. Pelan Faiz merengkuh bahu Sista dan mendaratkan pada bahunya, menenangkan hati Sista dengan pelukannya.
“Kamu cewek terkuat yang pernah kukenal. Sis…”
“Iya?”
“Izinkan aku jaga kamu, aku janji kita sama-sama perbaiki idup kamu. bareng aku, aku mau jadi orang yang selalu pertama kali denger curahan hatimu, menyeka air matamu, melihat guratan senyum di bibirmu. Sama-sama menapaki masa depan. aku mau…” Faiz menghentikan kata-katanya.
“Apa jadinya kalo gue mau kebalikannya? Gue mau elo menjauh, lihat sekeliling elo, Iz. Apa sih yang elo harapkan dari gue? Apa yang elo butuhin ada, cewek muslimah? Yang hapal Al-Quran? Yang baik budi pekertinya? Latar belakang keluarga beragama? Gue aja gak punya keluarga, Iz. Elo harusnya ngaca betapa elo dan gue beda!”
“Nyatanya cinta emang didasari dengan perbedaan, Sis. Justru perbedaan itu yang menguatkan. Manusia gak berhak memisahkan apa yang Allah swt., satukan, gak berhak menyatukan apa yang Allah swt., pisahkan juga…”
Sista dan Faiz saling berpandangan, setelah pelukan itu terlepas. Genggaman tangan Faiz kuat, menguatkan batin Sista.
“Bawa gue pergi dari kehidupan gelap gue, gue percaya sama elo, Iz! Gue percaya, bawa pergi gue. Jangan biarin gue lepas lagi ke dunia itu.”
“Aku akan coba. Kita bisa, kita kuat.”
OoO
“Ini gue, eh… aku, ini aku pakenya bener kan?” sela Sista membenarkan kerudung cokelat yang ia kenakan.
Faiz terkekeh, ada rasa geli menyadari malaikat kegelapannya yang terlampau manis mengenakan kerudung itu. “Bener kok, lebih cantik,”
“Terima kasih, ya!”
“Yup, yuk berangkat!”
Dan pada kenyataannya, kehidupan ini memang didasari perbedaan-perbedaan. Tergantung seberapa pandainya manusia mengatur perbadaan itu menjadi alasan untuk saling menguatkan.
Dunia ini terbagi menjadi dua sisi, sisi gelap dan terang. Karena memang faktanya hidup itu pilihan, mengenai sisi mana yang akan dipilih dan dilewati. Apa yang terang belum tentu terang di mata gelap. Apa yang gelap belum tentu menggelapkan.
Karena selalu ada kesempatan yang diberikan untuk berubah. Ke dalam kondisi terang ataupun gelap. Dan, Sista telah berhasil memilihnya. Meninggalkan sisi gelap yang selama ini menaunginya, dan kembali ke sisi terang dengan malaikat lain yang mendampinginya, Faiz. Menenggelamkan semua kegelapan itu di antara sinar terang.
Percayalah! Hidup ini memang sulit, tidak mudah, jangan habiskan waktumu dengan keasyikanmu di sisi gelap. Kamu tahu? Sisi terang selalu menantimu. Datanglah, pintu itu selalu terbuka… kapan saja.















0 komentar:

Posting Komentar

Tuliskan Komentar Anda dengan Sopan dan Tidak Mengandung Unsur Sara