Malaikat
Kegelapan
Faiz menelusuri lorong-lorong di kampusnya, lelaki
yang nyaris sempurna dengan penampilan fisiknya itu menenteng beberapa
buku-buku Psikologi. Ya, sesuai dengan program studinya, Psikologi di salah
satu Universitas Negeri favorit di Yogyakarta. Beberapa hari ini hatinya
sedikit terusik oleh sosok yang sering ia temui dan ingin sekali berkenalan
dengan dia, seorang mahasiswi Manajemen di Universitas yang sama dengannya
juga. Mereka terjebak dalam satu kelas yang sama di semester 4 ini dan dua kali
dalam seminggu sering sekali bertemu di kelas yang sama meski fakultas dan
jurusannya jauh berbeda.
Akhirnya, Faiz dapat meraih kelas D di gedung utama
fakultas Psikologi. Dia sibuk memutar-mutar ekor matanya untuk menangkap
bayangan gadis itu. dan beruntung, gadis yang ia tunggu-tunggu datangnya siang
ini duduk tepat di samping kirinya.
“Hai!” sapanya lemah.
“Hai…” gadis itu menimpali sekenanya, sesingkat
mungkin.
Faiz menarik napas dalam-dalam, “Aku minta maaf
kemarin tidak sempat memperkenalkan namaku. Aku Faiz, dari jurusan Psikologi
dan kita akan bertemu dua kali seminggu di mata kuliah Agama dan Pancasila.”
Faiz berpanjang lebar.
“Gue Sista, Manajemen. Biasa aja sih, toh kenal gak
kenal gak ngaruh juga buat idup gue.”
“Ada yang salah sama aku ya? Kenapa?”
“Iya. Elo terlalu melankolis dengan ‘aku-kamu’ dan gue
dengan ‘gue-elo’. Puas?”
“Jadi masalahnya di mana?”
“Kita gak bakal bisa nyambung kalo ngobrol. Elo
terlalu formal…”
Faiz mendengus, ia sedikit kecewa dengan awal
perkenalannya yang memuakkan. Ia sendiri berpikir apa yang sebenarnya terjadi
pada dirinya, adakah yang salah jika ia mau sedikit sopan dengan ‘aku-kamu’-nya
yang memang terdengar kaku.
“Aku akan bersenang hati kalo kamu mau makan siang
bareng hari ini. Buat salam perkenalan, bisa?” tawarnya dengan penuh ketulusan.
“Sori, gue sibuk. Kayaknya harus langsung ke kelas
lain. Mungkin lain kali aja.”
“Oke-oke, gak masalah.” Dialog menyebalkan itu
berakhir.
OoO
Tak akan ada yang spesial di mata Sista, dia hanya
akan menganggap semua yang menghampirinya sebagai angin lalu. Terjebak dalam
keluarga yang ‘broken home’ tak begitu bersahabat dengannya dan orang-orang di
sekitarnya. Sejak SMA ia tinggal bersama Tantenya di Jakarta dan ketika ia
resmi diterima di Universitas di Jogja ini, dia lepas kendali dan tak pernah
bertegur sapa lagi dengan keluarganya di Jakarta. Mamanya seorang manager di
salah satu perusahaan besar di Jakarta, Papanya seorang pegawai di instansi pemerintahan.
Dan, kedua orang tuanya berpisah sejak ia kelas satu SMA. Saat-saat yang sangat
berat dalam hidupnya adalah ketika dua orang yang seharusnya menjaganya itu
meninggalkannya sendiri dan memilihnya untuk dititipkan ke Tante Vivi. Hal itu
membentuk karakter yang menyedihkan, Sista yang liar dan anti sosial. Meski
dalam sisi tersendiri ia adalah sosok yang sangat cerdas.
Sejak semester dua, Sista tidak pernah menghubungi
keluarganya di Jakarta. Begitu pula keluarganya, Tante Vivi yang menjadi satu-satunya
malaikat baginya juga pergi entah kemana. Kiriman uang yang seharusnya datang
sebulan sekali dengan nominal lima juta rupiah pun menghilang sejak semester
tiga. Hal itu membuat Sista makin terpukul dan parahnya, Sista menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan uang. Ia masuk dalam dunia kegelapan. Ia menjadi
malaikat kegelapan.
Uang yang ia dapat dari ‘pekerjaannya’ itu benar-benar
mampu mencukupi kebutuhan perkuliahannya, makan sehari-hari, dan hidup normal
seperti manusia lain. Meski banyak waktunya yang tersita untuk ‘pekerjaannya’
itu. selama ini ia tidak pernah mengenal apa itu ‘cinta’ yang sebenarnya. Ia
termakan oleh kekecewaan yang dibuat oleh orang tuanya, cinta yang diselimuti
oleh pengkhianatan-pengkhianatan. Dan parahnya, sampai saat ini, Sista tak
percaya cinta. Meski memang banyak sekali lelaki-lelaki rupawan, kehidupan yang
nyaris sempurna mencoba menjalin hubungan serius dengan Sista. Tak ada satupun
yang nampak baik di matanya. Atau mungkin dia yang merasa tidak cukup baik
untuk mereka.
Satu rumah minimalis dan sepeda motor berhasil ia
dapatkan dengan ‘pekerjaan’nya itu. sisanya ia gunakan untuk kuliah dan
ditabung, sisi gelap yang berhasil disembunyikan dari orang lain itu membuatnya
seolah-olah datang dari planet lain.
OoO
Lelaki berbadan tegap itu tak pernah merasakan hal
yang ia rasakan seperti saat ini. Gejolak rasa yang benar-benar membuatnya
mabuk. Sista dengan pancaran misterius dan sisi terang yang selalu menonjol.
Mungkin memang tak bisa dipungkiri sudah berapa banyaknya wanita-wanita yang
mendekatinya. Mulai dari; gadis muslimah yang hapal Al-Qur’an, puteri petinggi
pesantren, mahasiswi kedokteran cantik-kaya-baik, mahasiswi Sastra Arab di
Al-Azhar Kairo, beberapa gadis-gadis populer lainnya. Tak ada satupun yang
menarik hatinya untuk mengenal lebih lanjut. Tapi untuk Sista, semua mendadak
berubah. Gravitasi selalu mencoba menariknya dari muka Bumi jika ia bertatap
muka dengan Sista. Berbeda dengan gadis-gadis yang mengelilinginya, banyak
diantara mereka yang rapi dengan jilbab yang menyelimutinya, sedangkan Sista?
Rambutnya yang bergelombang itu masih bebas berkibar dengan indahnya,
menggulung-gulung bagai ombak di samudra, memabukkan.
OoO
“Kamu bilang sibuk? Akhirnya ketemu juga di kantin,”
Faiz duduk tepat di kursi kayu dekat Sista yang sudah menikmati semangkuk mie
dok-dok pesanannya tadi.
“Masalah elo apa sama gue? Kantin ini bebas dan gue
juga bebas nentuin kesibukan gue,”
Faiz hanya melempar senyum kecil pada Sista, meski
Sista sama sekali tidak mempedulikannya. Ia menatap pada selembar kertas yang
tertumpang pada buku tebal bertuliskan “Management”
itu, sebuah nama yang undah tercetak di sana.
“Jadi nama kamu, Mawwadatusista Rahmah? Bagus banget,”
“Sampai sekarang gue aja gak tahu tuh maknanya apa,
biasa aja, gak ada yang spesial buat gue.”
“Mawwadah tuh cinta, dan Rahmah tuh sayang, kalo
Sista, mungkin dari Shita kali ya.”
“Shita?”
“Musim dingin, artinya,”
“Menurut elo, nama gue artinya apa?”
“Cinta dan sayang yang mendinginkan hati, menyejukkan
hati… gimana menurut kamu?”
“Haha. Lucu banget yah, gue aja sama sekali gak
percaya tuh sayang, cinta apalah, kenapa nama gue kayak gitu…”
Pembicaraan hangat pun terjadi, saling bertukar
informasi tentang nama-nama dan artiannya. Maklum, sebagai anak seorang Kiai, Faiz
paham tentang hal kecil itu.
“Masa sih? Kamu gak percaya cinta? Kamu ada di dunia
ini di dasari oleh cinta dan sayang orang tua kamu dong, Sis.”
“Elo udah sok tahu masalah cinta, sekarang sok tahu
masalah orang tua gue. Elo gak tau apa-apa sih, gak usah sok tahu! Gue gak
suka.”
Mulut Faiz yang tadinya menutup mendadak mengaga, ia
menatap Sista yang mendorong kursi dan meninggalkan dirinya.
Maaf,
Sis. Aku salah ngomong, mungkin.
Diam-diam Faiz mengikuti langkah kaki Sista yang
mentap ke parkiran. Masih dalam misinya mengetahui Sista lebih mendalam lagi.
Dia mengikuti Sista hingga ke rumahnya, rumah minimalis yang bersih dan
terlihat segar tapi sama sekali tidak nampak adanya tanda-tanda kehidupan di
sana. Begitu Sista memasuki rumahnya, ia langsung beringsut menjauh.
Malamnya, Faiz mendatangi rumah Sista lagi. Diketuknya
pintu rumah modern-minimalis itu dengan mantap dan tak lama, Sista membukanya.
“Assallamu’alaikum,” salamnya agak berat
Sista mencoba membuka pintunya lebih lebar lagi,
sesaat tidak menyangka Faiz akan menemukan rumahnya. “Elo ngebuntutin gue?
Ngapain elo ke sini? Mau elo apa?”
“Kamu belum jawab salamku, Sis,” Faiz mendengus, ada
rasa sesak yang mendalam saat salamnya tak terbalas.
“Wa’alaikumsallam.” Jawabnya singkat, Sista berharap
dengan ia menjawab salamnya, Faiz segera pergi. “Jadi mau elo apa?”
“Aku mau ngajak kamu ke Coffee Break bisa? Ada sesuatu
yang mau kubicarakan…”
Sista mendengus, tak tahu apa yang diinginkan lelaki
ini. “Kenapa harus ke sana?”
Faiz hanya mengangkat kedua bahunya. Sista terdiam
untuk beberapa saat. Mungkin memikirkan dan menimbang-nimbang ajakan Faiz, ada
rasa penasaran yang mendalam juga di dasar hatinya. “Oke, tunggu bentar gue
ganti baju.”
OoO
Mereka berdua berhasil sampai di Coffe Break dengan
mobil yang dibawa Faiz. Segelas Gingerbread latte dan Iced Caffe Latte sudah
ada di depan mereka, serta beberapa roti yang sama sekali belum tersentuh sejak
pesanannya datang.
“Maksud elo apa ngajak gue ke sini?”
Jemari Faiz mengitari bibir gelasnya, menunduk. “Aku
cuma mau kenal kamu lebih deket aja, aku liat kamu jarang banget ada quality time sama temen-temen kamu. kalo
ada masalah, cerita aja gak pa-pa. Aku selalu siap denger ceritamu.”
“Well, first at
all. Gue ngrasa gak nyaman dengan gaya bahasa kita yang aneh. Elo-gue,
kamu-aku, beda… kita gak nyambung!” cetus Sista putus asa.
“Sori, deh. Aku gak biasa pake bahasa gitu. Kalo
dipaksakan kita bisa kok, soalnya kan semua hal yang biasa itu emang karena dipaksakan.”
Sista menyesap segelas Iced caffe Latte yang ia pesan
tadi. Lalu, “elo gak cukup tahu tentang gue, Iz. Gak ada yang peduli sama gue,
elo tau, semua orang yang gue sayangin pergi satu persatu dalam idup gue. Gak
ada cinta yang bisa gue percaya lagi. Nyokap bokap gue, tante gue, gue gak
pernah kenal mereka lagi sekarang. Gue rasa gak ada yang mau dengerin gue lagi.
Gue pilih untuk menepi dengan kehidupan gue sekarang…”
“Cara kamu salah, Sis. Ada kok orang yang mau peduli
kamu, termasuk aku…”
“Gue udah bilang ke elo, elo gak cukup tau tentang
gue! Kalo elo mau, elo dengerin cerita gue. Kalo elo kebanyakan komentar, elo
gak ada bedanya sama makhluk-makhluk di luar sana!”
Refleks Faiz menggenggam tangan Sista yang sedari tadi
tertumpang manis di bangku, refleks pula Sista menariknya. “Sori, deh! Aku gak
tahu, oke, kita mulai lagi… jadi kamu kuliah karena kamu sendiri yang usahain?”
Sista mengangguk. Rasanya seperti ada pedang besi
panas yang menghunus rongga dadanya, sangat sesak sekali rasanya. Mengingat
‘pekerjaan’ yang selama ini menghidupinya sangat menjijikkan. Mungkin Faiz akan
menghindarinya jika mengetahui ‘pekerjaan’nya itu.
“Kamu hebat, Sis. Kuat. Belum tentu jika mereka
dihadapkan di posisi kamu, mereka bakal kuat. Jangan pikirin mereka. Biarkan mereka
mau berkata apa tentang kamu.”
Menit demi menit dilewati dengan puluhan cerita-cerita
menarik yang saling ditukar satu sama lain. Sista mengerti beberapa seluk beluk
Faiz, anak seorang Kiai yang terkenal dengan banyak cabang pesantren yang menyebar
di Jogja dan sekitarnya. Dan Muhammad Faiz Zulkarnain yang dikelilingi
gadis-gadis ahli kitab-muslimah-baik-cantik yang sangat berbeda jauh dengan
Sista. Ada lubang besar di hatinya menyadari bahwa lelaki yang dihadapinya ini,
yang baru saja dikenalnya dan teramat baik kepadanya itu, takkan mungkin bisa
mendengar cerita-ceritanya lagi lain kali ketika Faiz sudah menjatuhkan
pilihannya kepada salah satu diantara gadis luar biasa itu.
Ada sebersit di pikiran Sista untuk memilih menjauh
dari Faiz. Lagi-lagi ketika cinta mulai menyapanya, ia menghindarinya. Takut
risiko pengkhianatan itu akan menjumpainya lagi. Dan, tekad Sista sudah bulat.
Lelaki sempurna seperti Faiz tidak berhak berteman dengan gadis liar-brutal
sepertinya, sedangkan faiz dikelilingi gadis-gadis luar biasa. Latar belakang
agama yang sangat kental, sedangkan dirinya hanya menghayatinya tak begitu
dalam. Kesempurnaan Faiz yang berbeda jauh dengannya. Sista mundur. Tak ada
lagi yang bisa ia harapkan dari Faiz, mungkin cerita-cerita yang ia berikan
pada Faiz itu yang membuatnya mendadak merindukan saat-saat adanya kasih
sayang. Dan untuk sekali dalam hidup Sista seusai ia dikecewakan, Sista
merasakannya lagi. Dan sekali lagi ia harus menampiknya. Merelakan lagi Faiz
yang super sempurna itu bahagia dengan gadis pilihannya nanti.
“Aku gak pernah merasakan jatuh cinta yang terlalu
mendalam selama ini.”
“Oh ya?” balas Sista singkat. Otaknya masih
menimbang-nimbang tekadnya untuk menjauh.
“Kamu?”
Sista melamun. Angannya masih terbang kesana-kemari.
“Hey!” bentak Faiz seraya melambaikan tangannya
melewati wajah Sista yang sempurna. Kulih putih gading, hidung mancung dan
bibir tipisnya, matanya yang bulat dihiasi bulu mata indah. Alisnya tertata
rapi, semua terlihat sempurna. Seperti malaikat. Malaikat kegelapan.
“Gue gak pernah merasakan itu sejak bokap nyokap gue
cerai. Semua terlihat biasa aja.”
“Kamu gak pernah pacaran?”
“Sama sekali gak pernah!” jelas Sista mantap, bibirnya
nyengir.
Ada udara sejuk yang berembus syahdu setelah mendengar
ungkapan Sista. Ada sisi terang lagi dari Sista, ia tak pernah menjalin
hubungan serius dengan orang lain. Artinya, memang akan ada satu lelaki saja
yang ia cintai kelak. Dan tidak ada kenangan-kenangan tentang siapa mantan
kekasihnya nanti.
“Udah larut malam, kita pulang aja, Iz.” Ajak Sista
dan langsung disetujui oleh Faiz.
OoO
Hari ini tidak ada jadwal perkuliahan, Sista bisa
istirahat sejenak. Minggu ini juga ia harus mengantarkan ‘pesanan’ ke beberapa
tempat. Pelan ia membuka kertas putih di balik buku “Management”nya itu, ada beberapa nama dan daftar alamat di sana.
secepat kilat menyalinnya pada beberapa kertas kecil yang lain dan
menempelkannya pada kardus-kardus kecil yang ia siapkan tadi.
Ia memasukkan beberapa bungkusan plastik putih berisi
sesuatu. Rapi ia membungkusnya pada bungkusan cokelat, ada beberapa kardus
kecil yang ia susun. Setelah itu ia memasukkannya ke dalam kantung plastik
hitam yang lain dan terakhir pada tas ransel warna hitam. Ia mulai berganti
pakaian, kaus hitam lengan panjang, celana jins, dan topi yang menutupi separuh
mukanya sudah terpasang rapi. Saatnya mengantar ‘pesanan’.
Setelah yakin semua siap, Sista menyiapkan sepeda
motornya dan mengantarkan semua barang ‘pesanan’ itu.
Sista sudah terbiasa memasuki lorong-lorong gelap-lembab
yang seirama dengan julukannya sebagai “malaikat kegelapan”.
Seiring langkah kakinya, ia makin yakin dengan
keputusannya untuk menjauhi Faiz. Lelaki itu terlalu istimewa jika harus
mengenalnya. Terlalu rumit masalahnya.
OoO
Hari pertama misinya menjauhi Faiz, ia sengaja tidak
masuk mata kuliah Agama dan Pancasila minggu ini. Jadi ia tidak terlalu sering
melihat Faiz. Ponselnya juga tak ia hiraukan. Puluhan chat yang ia terima juga sama sekali tidak dipedulikan.
Hingga tiba saatnya Faiz geram melihat ulah Sista yang
berubah seketika. Ia sadar, ada yang salah diantara mereka dan semua harus
diselesaikan segera. Jika tidak, mungkin akan ada kesakitan yang lebih menyayat
lagi.
Kali ini Sista tak bisa menghindar lagi. Faiz
menemuinya di rumah, salah satu tempat di mana ia biasa bersembunyi.
“Kamu kenapa sih, Sis? Ada yang salah sama aku? Kalo
kamu diem gini gimana aku bisa tahu masalahmu?”
“Kita yang salah. Gue harusnya gak kenal elo, Iz. Kita
jauh beda, elo gak tahu gue.”
“Aku ‘kan bilang, aku mau denger semua cerita kamu.
kamu harus cerita biar aku tahu dan kasih solusi. Kamu tahu? Paling gak dengan
kamu cerita, orang lain tuh bakal ngerti gimana rasa sakit kamu!”
“Bohong! Gue cerita ke elo, gak bakal ngerubah satu
milimeter pun idup gue! Desah napas gue selalu diselimuti pengkhianatan,
kekecewaan, dan kebencian! Selama ini elo nilai gue dari sisi terang aja, Iz.
Elo sama sekali gak tahu sisi gelap gue! Elo menilai secara sepihak dan elo
salah! Jangan bikin idup elo jadi gak berguna daripada idup gue!”
Faiz mematung beberapa saat. Lalu, “Siapa sih yang gak
kenal kamu? pengedar narkoba kelas kakap, aku gak peduli kelas teri ato kakap.
Yang jelas, banyak orang yang tahu kamu. sabu, ekstasi, apa lagi? Apa lagi?
Datang di setiap rutan-rutan dan pusat rehabilitasi buat ngasih itu, kamu bunuh
mereka dengan kenikmatan mereka sendiri.”
“Salah gue? Tau gitu mereka juga rela bayar gue banyak
duit Cuma buat dapetin satu gram sabu! Mutualisme! Gue butuh duit mereka,
mereka butuh idup juga! Gue bakal lepas sama dunia ini, gue janji… tapi gue
harus menyelesaikan kuliah gue. Elo gak pernah tahu gimana gue? Gue idup
sebatang kara di sini, idup yang begitu keras ini gue jalanin sendirian, dan
gak itu aja. Parahnya, gak ada satu orang pun yang peduli sama gue bahkan ngasih
satu keping hati mereka buat gue!”
“Aku peduli sama kamu. Aku rela kasih sekeping hatiku,
dua keping, buat kamu!”
Tak terasa air mata mulai menggenang di kelopak mata
Sista, wajahnya yang putih kini memerah. “Elo salah, Iz. Elo mundur aja! Dunia
gue terlalu gelap buat elo!”
“Aku yakin kamu bukan pemakai, kamu hanya butuh uang
mereka dan elo bukan orang tolol yang pake itu buat selesaikan masalah!”
“Tapi, gue udah bunuh banyak orang! gue bunuh mereka
pelan-pelan, bahkan mereka sebut gue jadi malaikat bagi idup mereka, betapa
parahnya kan? Elo tahu gimana gue dikejar rasa bersalah tiap hari? Tapi GUE GAK
PUNYA PILIHAN!”
Faiz menarik napas dalam-dalam, ia terduduk di sofa
warna merah bata itu tepat di samping Sista yang mulai terisak. “Kalo kamu mau,
aku kasih pilihan ke kamu…, jauhin dunia gelapmu. Mulai dari awal, ada yang
lebih halal buat kamu, pelan-pelan aja.”
“Elo pikir gue manusia bodoh? Gue udah nyoba, mereka
tetep ngejar gue dan bakal sama-sama narik gue ke penjara kalo gue berhenti
ngasih mereka ekstasi. Idup gue tergantung di sini, jantung gue serasa
diambil!”
Mereka berdua terjebak dalam situasi mencekam. Pelan
Faiz merengkuh bahu Sista dan mendaratkan pada bahunya, menenangkan hati Sista
dengan pelukannya.
“Kamu cewek terkuat yang pernah kukenal. Sis…”
“Iya?”
“Izinkan aku jaga kamu, aku janji kita sama-sama
perbaiki idup kamu. bareng aku, aku mau jadi orang yang selalu pertama kali
denger curahan hatimu, menyeka air matamu, melihat guratan senyum di bibirmu.
Sama-sama menapaki masa depan. aku mau…” Faiz menghentikan kata-katanya.
“Apa jadinya kalo gue mau kebalikannya? Gue mau elo
menjauh, lihat sekeliling elo, Iz. Apa sih yang elo harapkan dari gue? Apa yang
elo butuhin ada, cewek muslimah? Yang hapal Al-Quran? Yang baik budi
pekertinya? Latar belakang keluarga beragama? Gue aja gak punya keluarga, Iz.
Elo harusnya ngaca betapa elo dan gue beda!”
“Nyatanya cinta emang didasari dengan perbedaan, Sis.
Justru perbedaan itu yang menguatkan. Manusia gak berhak memisahkan apa yang
Allah swt., satukan, gak berhak menyatukan apa yang Allah swt., pisahkan juga…”
Sista dan Faiz saling berpandangan, setelah pelukan
itu terlepas. Genggaman tangan Faiz kuat, menguatkan batin Sista.
“Bawa gue pergi dari kehidupan gelap gue, gue percaya
sama elo, Iz! Gue percaya, bawa pergi gue. Jangan biarin gue lepas lagi ke
dunia itu.”
“Aku akan coba. Kita bisa, kita kuat.”
OoO
“Ini gue, eh… aku, ini aku pakenya bener kan?” sela
Sista membenarkan kerudung cokelat yang ia kenakan.
Faiz terkekeh, ada rasa geli menyadari malaikat
kegelapannya yang terlampau manis mengenakan kerudung itu. “Bener kok, lebih
cantik,”
“Terima kasih, ya!”
“Yup, yuk berangkat!”
Dan pada kenyataannya, kehidupan ini memang didasari
perbedaan-perbedaan. Tergantung seberapa pandainya manusia mengatur perbadaan
itu menjadi alasan untuk saling menguatkan.
Dunia ini terbagi menjadi dua sisi, sisi gelap dan
terang. Karena memang faktanya hidup itu pilihan, mengenai sisi mana yang akan
dipilih dan dilewati. Apa yang terang belum tentu terang di mata gelap. Apa
yang gelap belum tentu menggelapkan.
Karena selalu ada kesempatan yang diberikan untuk
berubah. Ke dalam kondisi terang ataupun gelap. Dan, Sista telah berhasil
memilihnya. Meninggalkan sisi gelap yang selama ini menaunginya, dan kembali ke
sisi terang dengan malaikat lain yang mendampinginya, Faiz. Menenggelamkan
semua kegelapan itu di antara sinar terang.
Percayalah! Hidup ini memang sulit, tidak mudah,
jangan habiskan waktumu dengan keasyikanmu di sisi gelap. Kamu tahu? Sisi
terang selalu menantimu. Datanglah, pintu itu selalu terbuka… kapan saja.






0 komentar:
Posting Komentar
Tuliskan Komentar Anda dengan Sopan dan Tidak Mengandung Unsur Sara